KHAUF : Takut Kepada Allah

Khauf adalah cambuk Allâh SWT untuk menggiring hamba-hamba-Nya menuju ilmu dan amal shaleh agar mereka mampu mendekatkan diri kepada-Nya.

Khauf adalah ungkapan derita hati dan kegundahannya terhadap apa yang akan dihadapi. Khauf inilah yang akan mencegah diri dari perbuatan maksiat dan dosa dengan bentuk-bentuk ketaatan. Seorang yang sedikit rasa Khauf-nya akan terdorong menuju kealpaan dan keberanian untuk berbuat dosa. Sebaliknya terlalu berlebihan dalam Khauf akan menyebabkan putus-asa dan patah harapan.

Rasa takut kepada Allâh SWT bisa lahir dari ma’rifah (pengetahuan) seseorang kepada Allâh SWT dan ma’rifah terhadap sifat-sifat-Nya. Sifat Khauf juga bisa lahir dari perasaan banyaknya dosa yang telah diperbuat oleh seorang hamba. Juga Khauf terkadang lahir dari keduanya. Semakin seorang hamba mengetahui tentang kedudukan dan kekuasaan Allâh SWT, serta mengetahui aibnya dan Dia tidak ditanya tentang apa yang dilakukannya, tetepi para hambalah yang ditanya akan apa yang telah dilakukan, maka semakin kuatlah sifat Khauf seorang hamba kepada Allâh SWT.

Orang yang paling takut kepada Allâh SWT adalah orang yang paling tahu siapa dirinya dan siapa Rabbnya. Allâh SWT berfirman;

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Bahwasanya yang takut kepada Allâh diantara hamba-hamba-Nya adalah para ulama” (QS: Fathir [35]: 28)


Rasûlullâh SAW bersabda:
“demi Allâh akulah yang paling tahu siapa Allâh dari pada mereka, demikian pula aku yang paling takut kepada-Nya” (HR. al-Bukhary)

ORANG YANG TAKUT KEPADA ALLÂH
Orang yang takut kepada Allâh SWT bukanlah orang yang menangis dan bercucuran air matanya. Tapi orang yang takut pada Allâh adalah orang yang meninggalkan perbuatan-perbuatan dosa yang ia takutkan hukumannya.

Dzun Nun al-Misri pernah ditanya, “Kapankah seorang hamba itu disebut takut kepada Allâh? “ ia menjawab, jika ia mendudukkan dirinya sebagai orang sakit yang menahan dirinya dari berbagai hal, khawatir jika sakitnya berkepanjangan.”

Abul Qosim al-Hakim bertutur, “ siapa yang takut terhadap sesuatu ia akan lari darinya. Tetapi siapa yang takut kepada Allâh justru ia lari untuk mendekati-Nya.”
Fudlail bin ‘iyadl berujar, “jika kamu ditanya, “apakah kamu takut kepada Allâh? maka diamlah, jangan menjawab! Sebab jika kamu menjawab “ya” kamu telah berdusta. Sedangkan jika kamu jawab “tidak” maka kamu telah kafir” .

Rasa takut akan membakar syahwat yang diharamkan, sehingga kemaksiatan yang dulu disukai menjadi dibenci. Seperti orang yang suka dengan madu jika dia tahu madu tersebut mengandung racun ia pun akan serta merta membencinya. Ketika syahwat dibakar oleh rasa takut kepada Allâh, anggota badan jadi beradab, dan hatipun diliputi rasa khusyuk dan tenang, jauh dari kesombongan, iri, dan dengki. Bahkan ia mampu menguasai segala kegundahan dan tahu bahayanya. Maka ia tidak pernah pindah kepada selain Allâh SWT. Tiada lagi kesibukan melainkan usaha untuk mendekatkan diri, muhasabah, mujahadah, dan memperhitungkan setiap nafas dan waktunya. Ia selalu waspada terhadap segala pikiran, langkah, dan kalimat yang keluar dari dirinya, layaknya orang yang sedang takut dengan harimau yang akan menerkamnya maka dia akan memiliki kewaspadaan yang sangat tinggi terhadap binatang tersebut.

KEUTAMAAN KHAUF
Allâh SWT menyediakan petunjuk, rahmat, ilmu, dan keridhoan bagi hamba yang memiliki rasa takut kepada-Nya.

هُدًى وَرَحْمَةٌ لِلَّذِينَ هُمْ لِرَبِّهِمْ يَرْهَبُونَ
“ petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang takut kepada Robb mereka”
(QS. al-A’raf [7]:154)

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Bahwasanya yang takut kepada Allâh diantara hambaNya adalah para ulama” (QS. Fathir [35]:28)

رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ
“Allâh ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya, demikian itu bagi siapa saja yang takut kepada Rabbnya” (QS. al-Bayinah [98]: 8)

Allâh SWT juga menjadikan Khauf sebagai syarat keimanan seseorang.

وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“ dan takutlah kalian kepada ku, jika kalian benar-benar beriman
(QS. Ali Imron [3]: 175)

Kesimpulannya tidak mungkin seorang mukmin selemah apapun imannya kehilangan Khauf. Dikarenakan kuat lemahnya rasa takut seseorang tergantung kuat lemahnya iman seseorang.
Rasûlullâh SAW bersabda,
“tidak akan masuk neraka seorang yang menangis karena takut kepada Allâh, sampai air susu itu kembali ketempat semula” (HR. Turmudzi)

Fudhail Bin Iyad berkata, “barang siapa takut kepada Allâh maka rasa takutnya itu akan menunjukkan segala kebaikan kepadanya.”

As-Syibli berkata, “setiap kali aku takut kepada Allâh setiap kali itu pula aku melihat pintu hikmah dan pelajaran.”

Yahya bin Mu’adz berkata, “jika seorang mukmin melakukan suatu kemaksiatan, ia harus menindaklanjuti dengan salah satu dari dua hal yang akan menghantarkannya ke surga, takut akan siksa dan harapan akan ampunan.”

KETELADANAN DALAM KHAUF
Rasûlullâh SAW bersabda,
“demi Allâh, seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui pastilah kalian sedikit tertawa, banyak menangis, tidak akan bersenang-senang bersama istri, dan kalian pasti akan turun ke jalan-jalan bermohon kepada Allâh, sekiranya Allâh menjadikannya sebatang pohon yang ditebas saja.” (HR. at-Tirmidzi)

Aisyah rodhiallahuanha meriwayatkan,
“Rasûlullâh SAW jika cuaca berubah dan angin bertiup kencang, beliau mondar-mandir keluar masuk kamar. Yang demikian itu karena beliau takut akan adzab Allâh SWT.” (HR. Bukhari)

Abdullah bin Assyakhir meriwayatkan, “bahwa Rasûlullâh SAW jika memulai shalat terdengarlah dari dada beliau gemuruh seperti suara air yang mendidih dalam bejana” (HR. an-Nasai)

Siapapun yang mencermati kehidupan para sahabat dan para salafus-shalih pasti akan mendapati betapa mereka berada pada puncak Khauf. Adapun kita semua benar-benar berada pada kelalaian dan merasa aman dari adzab.

Abu Bakar as-Shiddiq berkata,
“ jika beliau Nabi SAW berdiri shalat, tak ubahnya seperti sebatang kayu tidak bergerak, karena takut kepada Allâh SWT”

Umar Bin Khatab, pernah membaca surat at-Thur ayat 7, yang artinya, “Sungguh adzab Rabbmu pasti benar-benar terjadi” beliau menangis dan semakin menghebat tangis beliau sampai beliau sakit dan orang-orang menjenguk beliau. Kemudian saat menjelang ajal, beliau berkata kepada sang putra, “Anakku, letakkan pipiku diatas tanah, mudah-mudahan Allâh mengasihiku.” Lantas beliau berkata, “Celakalah aku, jika Allâh tidak menggampuniku.” Beliau ucapkan tiga kali kemudian beliau wafat.

Beliau juga pernah membaca suatu ayat di malam hari. Ayat itu membuatnya begitu takut sehingga beberapa hari beliau tidak bisa keluar rumah, sehingga orang-orang pun menjenguknya.

Usman Bin Affan, bila berdiri di depan kuburan menangis sampai basah jenggotnya, seraya berkata, “aku ada diantara surga dan neraka, padahal aku tidak tahu dimana aku akan dimasukkan. Sungguh aku lebih memilih menjadi abu sebelum aku tahu kemana aku dimasukkan.”

Sahabat Ali Bin Abi Thalib berkata,
“di pagi hari mereka (sahabat Nabi) tampak kusut, pucat dan berdebu. Mereka menghabiskan malam dengan dengan bersujud dan berdiri dengan membaca ayat-ayat Allâh. Bila pagi tiba merekapun berdzikir kepada Allâh SWT, bergemuruh seperti pepohonan tertiup angin yang kencang. Mata mereka bercucuran air mata sampai-sampai pakaian mereka basah karenanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *