TAKFIR : Syarat – Syarat dan Penghalang

Pendahuluan
Islam adalah agama yang dibangun di atas ilmu dan bukti yang jelas. Hukum hudud (pidana) pun dibangun di atas ilmu dan bukti yang jelas. Tidak boleh dibangun di atas syubhat. Apabila bukti masih syubhat, maka pelaku kejahatan pidana harus dibebaskan dari hukuman tersebut. Apalagi takfir yang implikasinya sangat mengerikan. Maka takfir harus dihindarkan dari pelaku dosa besar yang masih ada syubhat.

Tidak boleh kita mengkafirkan seorang muslim sebelum terpenuhi syarat–syarat dan menghilangkan penghalang–penghalang jatuhnya hukum kafir. Barulah apabila syarat–syarat takfir sudah cukup dan segala syubhat sudah dihilangkan, kita perlu berhati–hati terhadap orang tersebut dan menghimbau agar kaum muslimin berhati–hati padanya.

Adapun syarat–syarat tersebut adalah;

  1. Baligh
    Keyakinan, perkataan dan perbuatan yang dihukumi kafir oleh Allâh SWT dan Rasul-Nya SAW baru bisa diajukan dan diproses menurut pengadilan syariat apabila dilakukan oleh seorang yang telah baligh. Tetapi apabila dilakukan oleh anak kecil maka tidak bisa diproses. Karena anak kecil yang belum baligh merupakan penghalang jatuhnya hukum kafir karena masih belum tersentuh hukum. Sebagaimana sabda Rasûlullâh SAW :

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنِ الصَّبِىِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ

Pena diangkat dari tiga golongan: yaitu dari orang yang tidur hingga dia terjaga, dari anak kecil hingga dia telah ihtilam (mimpi basah) dan dari orang gila hingga dia berakal .

  1. Berakal
    Dari hadits di atas juga bisa dijadikan dalil bahwa keyakinan, perkataan, dan perbuatan yang dihukumi kafir oleh syariat, pelakunya bisa dijatuhi hukum kafir apabila dilakukan oleh orang yang berakal. Apabila dilakukan oleh orang gila (hilang akal) maka tidak bisa dihukumi kafir. Karena gila merupakan salah satu penghalang takfir.
  2. Ilmu
    Yaitu seseorang melakukan pebuatan yang termasuk perbuatan kafir dalam keadaan mengetahui bahwa perbuatan tersebut terlarang dan tergolong perbuatan kufur akbar. Imam asy- Syâfi’i rahimahullah mengatakan: Jika seseorang melanggar larangan setelah menerima iqamatuul hujjah maka dia kafir. Namun apabila dia melakukannya sebelum datangnya iqamatul hujjah, maka dia tidak jatuh kafir karena ketidaktahuannya atas hukum perbuatan tersebut. Demikian juga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: Sesungguhnya mengkafirkan seseorang tertentu dan boleh menghukumnya dengan hukuman mati itu apabila sudah sampai iqamatul hujjah nabawiyah padanya yang menjadikan orang yang melanggarnya jatuh hukum kafir. Apabila belum sampai iqamatul hujjah padanya maka karena ketidaktahuannya dia tidak bisa dijatuhi hukum kafir.

Maka barang siapa yang melakukan kekafiran karena ketidaktahuannya, dia tidak dihukumi kafir. Karena ketidaktahuan seseorang merupakan penghalang jatuhnya hukum kafir. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam hal ini mengatakan: Akan tetapi ada sebagian kaum muslimin yang melakukan perbuatan kufur karena tidak tahu tentang hukum–hukum perbuatan itu yang menghalanginya dari hukum takfir. Maka seseorang tidak dihukumi kafir hingga ditegakkan hujjah padanya sebagai bentuk penyampaian risalah padanya.

Ada suatu kisah yang disampaikan Rasûlullâh SAW tentang seorang laki–laki yang sama sekali tak pernah berbuat baik dan menyia–nyiakan dirinya sendiri. Kemudian karena takut adzab Allâh SWT dan agar dia tidak terkena adzab kubur dan adzab neraka, dia memerintahkan pada anaknya agar membakarnya jika dia meninggal dan menaburkan abunya ke tengah samudra di saat musim angin kencang. Dia mengatakan perkataan kufur :

فَوَاللَّهِ لَئِنْ قَدَرَ عَلَيَّ رَبِّي لَيُعَذِّبَنِّي عَذَابًا مَا عَذَّبَهُ أَحَدًا

Demi Allâh, jika Tuhanku menguasai atas diriku pastilah akan mengadzabku dengan adzab yang tak pernah diberikan pada seorangpun yang lain.

Maka setelah dia menyampaikan pada Allâh SWT di pengadilan akherat alasan dia berlaku demikian, Allâh pun mengampuninya karena ketidaktahuannya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah ta’ala ketika membahas hadits ini beliau mengatakan bahwa: Laki–laki tersebut meragukan kekuasaan Allâh SWT untuk mendatangkan dia di akherat ketika telah dibakar dan dibuang ke samudra, bahkan meyakini dia tidak dapat dikembalikan, yang mana perbuatan ini adalah kufur berdasarkan ijma kaum muslimin, tetapi perbuatan ini dilakukan karena ketidak tahuannya, dia lakukan karena ketakutanya pada siksa Allâh SWT atas dosa–dosanya, maka Allâhpun berkenan mengampuninya.

Demikian juga beliau mengatakan: Laki–laki tersebut meyakini bahwa jika anaknya melakukan hal demikian, maka Allâh SWT tidak mampu untuk mendatangkannya di alam kubur dan di akherat sehingga dia tidak menghadapi pengadilan akherat atau atau dibiarkan begitu saja, yang mana kedua keyakinan tersebut adalah kufur akbar, akan tetapi dilakukan atas ketidak tahuannya, belum pernah menerima penjelasan yang benar, maka Allâh mengampuninya.

  1. Sengaja
    Yaitu seseorang melakukan perbuatan yang tergolong kufur akbar secara sengaja dan dengan maksud sebagaimana yang dia kerjakan. Bukan karena lupa, bingung atau salah langkah. Karena lupa, salah atau bingung merupakan penghalang jatuhnya hukum takfir. Maka barang siapa yang melakukan perbuatan yang tergolong kufur akbar karena kesalahan, lupa atau kebingungan maka dia tidak dihukumi kafir. Sebagaimana doa orang–orang beriman,

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا

Wahai Rabb kami, janganlah Engkau siksa kami, jika kami salah.

Maka terhadap doa tersebut Allâh SWT membalas,

قَالَ قَدْ فَعَلْتُ

Allâh membalas: Sungguh telah Aku kabulkan.

Demikian juga hadits berikut ,

اللَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلاَةٍ فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِى ظِلِّهَا قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِى وَأَنَا رَبُّكَ ، أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ

Pastilah Allâh lebih gembira karena taubat seorang hamba-Nya ketika bertaubat kepada-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang sedang mengendarai unta di tengah padang pasir. Tiba–tiba untanya terlepas darinya, sedangkan makanan dan minuman serta perbekalan lain terbawa bersama untanya. Dia telah putus asa mencarinya, maka dia menuju ke sebuah pohon dan berbaring di bawah naungan bayang–bayangnya. Sungguh dia telah berputus asa mencari untanya. Ketika harapannya telah habis tiba–tiba untanya berdiri berteduh di sebelahnya. Maka dia segera memegang tali kekangnya kemudian saking gembiranya dia mengatakan “Ya Allah Engkaulah hambaku dan akulah Rabb-Mu“. Saking gembiranya dia berkata salah.

  1. Tidak ada paksaan
    Yaitu seseorang mengerjakan perbuatan kufur akbar dengan keinginan sendiri tanpa paksaan pihak lain. Karena terpaksa merupakan penghalang jatuhnya hukum takfir. Maka barang siapa yang mengerjakan perbuatan kufur akbar karena dipaksa atau diancam apabila tidak mengerjakannya, sementara hatinya tidak merelakan perbuatan tersebut, maka dia tidak bisa dijatuhi hukum kafir. Sebagaimana kisah Ammar bin Yasir RA ,

مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Barang siapa yang kafir pada Allâh setelah beriman kepada-Ny , kecuali orang yang dipaksa tetapi hatinya tetap tenang dalam keimana , tetapi barang siapa yang hatinya lapang menerima kekufura , maka mereka mendapatkan murka Allâh dan bagi mereka adzab yang besar.

عن أبي عبيدة بن محمد بن عمار بن ياسر قال: أخذ المشركون عمار بن ياسر فعذبوه حتى قاربهم في بعض ما أرادوا، فشكا ذلك إلى النبي صلى الله عليه وسلم، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: “كيف تجد قلبك؟” قال: مطمئنا بالإيمان قال النبي صلى الله عليه وسلم: “إن عادوا فعد


“Dari Abi Ubaidah bin Muhammad bin Ammâr bin Yâsir , dia berkata : Orang–orang musyrik menangkap Ammâr bin Yâsir kemudian mereka menyiksanya hingga dia mau mengucapkan perkataan–perkataan kufur yang mereka inginkan. Maka setelah itu dia mengadu pada Rasûlullâh SAW . Kemudian Rasûlullâh SAW balik bertanya : “ Bagaimana kau rasakan dalam hatimu?” Ammar menjawab : “Tetap tenang dalam keimanan. “ Maka beliau menjawab : “ Jika mereka melakukannya lagi padamu maka ulangilah jawabanmu .”

  1. Tidak ada perbedaan ta’wil
    Yaitu seseorang mengerjakan perbuatan kufur akbar karena menganggap hal tersebut diperbolehkan atau menurut dia hal itu dikerjakan berdasarkan dalil yang dianggap shahih, padahal menurut syariat dia salah dalam masalah ini. Apabila ada seseorang yang meyakini, mengatakan dan melakukan keyakinan, perkataan dan perbuatan yang tergolong kufur akbar, tetapi masih ada syubhat atau perbedaan takwil pada masalah tersebut, dan dia merupakan orang yang memungkinkan terjadinya syubhat dan perbedaan takwil , pada masalah yang memungkinkan terjadinya perbedaan takwil, maka dia tidak bisa dijatuhi hukum kafir. Karena adanya syubhat dan perbedaan takwil adalah penghalang takfir.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: Sesungguhnya orang yang melakukan takwil dengan maksud mengikuti Rasûlullâh SAW maka jika takwilnya / ijtihadnya salah, dia tidak dapat dijatuhi hukum kafir dan juga tidak bisa dijatuhi hukum fasiq. Ketentuan ini adalah pendapat yang masyhur di antara para ulama berkaitan dengan permasalahan amaliyah. Tetapi pada permasalahan aqidah maka mayoritas para ulama menghukumi kafir pada orang–orang yang melakukan kesalahan dalam masalah aqidah.

Demikian juga Syaikh Abdur Rahman as Sa’di rahimahullah mengatakan: Sesungguhnya orang–orang yang mentakwil dari golongan Ahli Kiblat yang sesat dan salah pada permasalahan ibadah khabariyah amaliyah, maka mereka tidak keluar dari agama Islam berdasar al-Kitab dan as-Sunnah dan tidak dihukumi dengan hukum bagi orang–orang kafir. Karena para sahabat, tabi’in dan para ulama salaf telah bersepakat atas hal tersebut.

Senada dengan hal di atas Syaikh Muhammad bin Utsaimin rahimahullah mengatakan : Salah satu penghalang takfir adalah pelaku perbuatan kafir terkena syubhat dan takwil yang berbeda sehingga dia menyangka bahwa yang dia lakukan adalah benar, karena dia melakukan dosa tanpa kesengajaan. Hal ini termasuk keringanan dari Allâh SWT dalam ayat,

وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Dan tidaklah ada dosa bagi kalian dalam perkara yang kalian berbuat sala , akan tetapi dosa itu adalah pada kesalahan yang hati kalian menyengajanya. Sesungguhnya Allâh Maha Pengampun dan Maha Pengasih.

Dari semua yang telah kami kemukakan di atas, jelaslah bahwa terkadang seorang muslim (Ahli Kiblat) terjatuh dalam perbuatan yang kufur akbar, atau syirik akbar yang menurut dalil syarak termasuk perbuatan yang mengakibatkan pelakunya keluar dari Islam. Akan tetapi hukum kafir tersebut tidak dapat dijatuhkan padanya karena belum memenuhi syarat–syarat atau masih adanya penghalang jatuhnya hukum takfir yang telah kami sebutkan di muka.

Wallaahul muwaffiq.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *