Menjadi Orang Tua Yang Bijak di Era Digital

Di era digital ini boleh jadi kita lebih memilih ketinggalan dompet di rumah daripada smartphone atau tablet digital. Perangkat gadget yang terkoneksi dengan internet telah begitu mempengaruhi aktifitas dan gaya hidup hampir setiap orang, terutama di daerah perkotaan. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mengungkapkan jumlah pengguna internet di tahun 2013 mencapai 71.19 juta, meningkat 13% dibanding 2012. “Penetrasi jumlah pengguna internet terus meningkat, saat ini mencapai 28 persen dari jumlah penduduk Indonesia yang 248 juta orang,” kata Ketua Umum APJII, Semuel A. Pangerapan (Januari 2014). Bila demikian data secara umum di Indonesia, bagaimana di kalangan anak dan remaja? Sebagai kelompok umur yang adaptif terhadap teknologi, golongan anak-anak dan remaja tentunya juga menjadi bagian terdepan dari gelombang perubahan jaman ini.

PERKEMBANGAN PESAT INTERNET DI KALANGAN ANAK DAN REMAJA DI INDONESIA DAN DAMPAKNYA

minato – naruto – kushina
Fenomena penggunaan internet di kalangan anak dan remaja telah diteliti oleh UNICEF, lembaga PBB untuk anak, bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, Berkman Center for Internet and Society dan Universitas Harvard, AS pada tahun 2014 dengan tajuk “Keamanan Penggunaan Media Digital pada Anak dan Remaja di Indonesia”. Studi ini menelusuri aktifitas online dari sampel anak dan remaja yang melibatkan 400 responden berusia 10 sampai 19 tahun di seluruh Indonesia dan mewakili wilayah perkotaan dan pedesaan.

Studi menunjukkan bahwa penggunaan media sosial dan digital menjadi bagian yang menyatu dalam kehidupan sehari-hari anak muda Indonesia. Sebanyak 98% dari anak dan remaja mengaku tahu tentang internet dan 79,5% di antaranya adalah pengguna internet. Penelitian ini memprediksi pengguna internet yang berasal dari kalangan anak-anak dan remaja mencapai 30 juta orang di tahun 2014.

Tercatat juga adanya kesenjangan digital yang kuat antara anak dan remaja yang tinggal di perkotaan dengan yang tinggal di pedesaan. Di Daerah Istimewa Yogyakarta, Jakarta dan Banten, misalnya, hampir semua responden merupakan pengguna internet. Sementara di Maluku Utara dan Papua Barat, kurang dari sepertiga jumlah responden telah menggunakan internet.

Ada tiga motivasi bagi anak dan remaja untuk mengakses internet, yaitu untuk mencari informasi, untuk terhubung dengan teman (lama dan baru) dan untuk hiburan. Pencarian informasi yang dilakukan sering didorong oleh tugas-tugas sekolah, sedangkan penggunaan media sosial dan konten hiburan didorong oleh kebutuhan pribadi.

Hampir semua responden dari penelitian tersebut tidak setuju terhadap isi pornografi di internet. Namun toh mereka tetap terpapar dengan konten pornografi, terutama yang muncul secara tidak sengaja atau dalam bentuk iklan yang bernuansa vulgar. Lebih dari separuh responden (52%) terpapar konten pornografi via iklan vulgar maupun situs yang tidak mencurigakan ketika sedang membuat tugas. Hanya 14% yang mengaku mengakses situs pornografi secara sukarela.

Tidak ada orang tua normal yang menginginkan anaknya menonton pornografi. Itu berarti kita tidak boleh lengah. Setiap anak baik itu yang masih kecil dan polos maupun remaja, begitu mereka memiliki akses ke internet itu berarti mereka berpotensi terpapar konten pornografi.

Berdasarkan riset yang dilaksanakan oleh Yayasan Kita dan Buah Hati (YKBH) sejak tahun 2008 hingga 2010, sebanyak 67% dari 2.818 siswa sekolah dasar (SD) kelas 4, 5, dan 6 di wilayah Jabodetabek mengaku pernah mengakses konten pornografi. Sebanyak 37% diantaranya mengakses dari rumah sendiri, sementara 11% dari rumah teman. Hal ini berarti hampir 1 dari 2 anak kita melihat pornografi dari rumah sendiri.

Menurut Ibu Elly Risman, pakar psikologi, ada berbagai alasan anak melihat pornografi: iseng (21%), penasaran (18%), terbawa teman (9%), dan takut dibilang kuper (3%). Fakta yang lebih menyedihkan adalah 24% dari anak-anak itu merasa biasa saja melihat pornografi. “Jadi bisa ditanyakan sejak usia berapa anak-anak itu mulai melihat pornografi,” tutur beliau.

Di tahun 2013 angka ini meningkat drastis. Ada 95% siswa mengaku pernah mengakses konten pornografi. Penelitian dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) di tahun 2014 juga menunjukkan bahwa 90% anak terpapar pornografi internet saat berusia 11 tahun.

Data Komnas Anak Indonesia menunjukkan bahwa di tahun 2014 Indonesia merupakan pengguna internet terbesar ke-3 dunia yaitu sebanyak 89 juta orang. Yang menyedihkan, 50-45 juta dari pengguna tersebut mengakses pornografi dengan 38% adalah adalah dari kalangan anak dan remaja. Itu artinya ada 17 sampai 19 juta anak dan remaja Indonesia telah mengakses konten pornografi melalui internet di Indonesia pada tahun 2014. Adakah putra-putri kita di antara mereka?

Pornografi memiliki banyak cara dalam membahayakan anak. Efek dari pornografi bersifat progresif yaitu terus-menerus dan adiktif bagi banyak orang. Sekali terkena paparan pornografi mungkin tidak secara otomatis menyebabkan anak mengalami penyimpangan atau menjadi pecandu seks. Namun karena pornografi memiliki banyak sekali pintu masuk, yaitu bisa saja di rumah, sekolah, rumah, warnet, gadget dan sebagainya maka paparan yang berulang pada akhirnya bisa membawa kerusakan yang serius. Penting sekali bagi kita untuk melihat bahwa banyak cara pornografi yang berpotensi membahayakan anak-anak kita.

MENGENAL OTAK DAN PERKEMBANGANNYA

Otak dibentuk sejak kita masih dalam kandungan. Perkembangannya dapat dilihat sejak janin berusia tiga minggu, dan terus berkembang dengan lahirnya bayi. Pematangannya terjadi kira-kira di usia pertengahan 20 tahunan. Otak manusia adalah struktur pusat pengaturan seluruh aktifitas. Di dalam otak terdapat 100 juta sel syaraf. Terdapat koneksi antar sel syaraf ini yang disebut sinap. Sinap atau hubungan antar sel syaraf ini terus bertumbuh dan diperkuat atau dipangkas sesuai dengan rangsangan input pengetahuan dan pengalaman. Terdapat masa emas pertumbuhan sinap hingga anak usia 2 tahun memiliki setengah jumlah sinap orang dewasa (Nasional Institute of Mental Health).

Korteks adalah adalah bagian otak yang berfungsi aktif, termasuk untuk berfikir dan menyimpan memori. Pertumbuhan korteks meningkat di masa kanak-kanak, kemudian sesuai dengan pertumbuhan kematangan, maka makin menebal kemudian menurun. Volume otak mengalami peningkatan tertinggi selama masa remaja awal (pra-baligh), yaitu kira-kira usia 11 tahun untuk putri, 12 tahun untuk putra.

Pada masa masa pra dan awal baligh itulah terjadinya pertumbuhan pesat koneksi antar sel neuron, dan sel syaraf mengembangkan myelin, lapisan pelindung agar sel syaraf terbantu berkomunikasi. Sementara pemangkasan terhadap koneksi yang tidak diperlukan belum terjadi. Perubahan mendasar ini membuat koordinasi pikiran, tindakan dan perilaku remaja belum berimbang.

Selain itu, para ilmuwan mengidentifikasi amigdala sebagai bagian otak yang bertanggung jawab atas perilaku yang bersifat insting seperti rasa takut atau agresifitas. Bagian ini berkembang terlebih dahulu dibandingkan dengan area pengendali utama (korteks lobus frontalis atau Pre-Frontal Cortex (PFC)). Ketika seseorang memasuki usia baligh, terjadi ledakan-ledakan hormon pada amigdala. Di lain pihak, PFC sebagai area pengendali moral dan nilai, pengembilan keputusan, kontrol diri belum berkembang sempurna. Jadi sebelum PFC sempurna, otak emosi berkembang terlebih dahulu. Inilah yang menjelaskan perilaku remaja yang cenderung lebih cepat bertindak, mendahului pemikiran untuk menimbang resiko dan konsekuensi.

PENGARUH PORNOGRAFI PADA OTAK DAN RESIKO ADIKSI

Perilaku manusia cenderung kepada pencarian kesenangan dan kenyamanan. Perilaku ini dipandu oleh hubungan antar sinap melalui neurotransmiter, yaitu pembawa pesan antar sinap. Salah satunya adalah dopamin, suatu neurotransmiter yang menimbulkan sensasi rasa senang, nyaman dan bahagia. Misalnya ketika kita memakan sesuatu yang lezat, maka dopamin akan segera melakukan tugas penghubung antar sinap. Bermilyar sinap akan berpendar menyebarkan impuls senang yang berputar di pusat emosi: amigdala.

Apa yang terjadi bila anak terpapar gambar pornografi secara tidak sengaja? Gambar pornografi yang diterima oleh mata, cukup dalam 3/10 detik saja, akan mentriger keluarnya dopamin di amigdala. Bisa dibayangkan bila anak melihat gambar tersebut selama 1 menit, 10 menit… dan seterusnya. Akan terjadi banjir dopamin di otak yang menimbulkan kekacauan neurotransmiter, yang dapat berakibat pada susutnya sel penerima pesan. Hal ini dalam jangka panjang akan menyebabkan peningkatan kebutuhan “dosis”. Lama-lama anak akan merasa “kosong” atau “mati rasa” dan akan membutuhkan adegan yang lebih intens atau lebih lama untuk mendapatkan sensasi rasa senang yang sama.

Hal ini seperti lingkaran setan yang dalam jangka panjang akan menyebabkan gangguan menetap yaitu penyusutan lobus frontal (PFC) yang dapat bersifat permanen. Sebagai penanggung jawab fungsi kontrol moral dan nilai, rusaknya PFC berarti anak akan mengalami kerusakan system nilai, ia akan biasa saja terhadap hal buruk atau disebut desentisasi. Dan dengan menyusutnya PFC, berarti terjadi juga penurunan fungsi pengambilan keputusan. Anak akan mengalami kesulitan untuk membuat keputusan terhadap tindakan-tindakan yang akan diambilnya.

Adanya dopamin di amigdala akan mentriger keluarnya hormon norepinephrine, yang terkadang disebut hormon noradrenalin. Hormon ini bertanggung jawab atas focus dan asosiasi. Paparan pornografi yang dilihat anak akan selalu terbayang-bayang secara detil detik perdetik. Ini akan menyebabkan gangguan pada kemampuan focus anak dan dapat berakibat pada perilaku kompulsif.

Hormon yang selanjutnya adalah oksitosin, hormon “bonding” yang pertama kali diidentifikasi pada bayi yang dipeluk oleh sang Ibu. Oksitosin disebut juga hormone “bonding” atau jalinan kasih sayang yang akan keluar ketika seseorang berpegangan, berpelukan atau berciuman. Hormon inilah yang akan mentriger keluarnya ASI pada Ibu yang sedang memeluk bayinya. Hormon inilah juga yang akan berpendar-pendar di system syaraf pada saat hubungan suami istri mencapai puncaknya. Dapat dibayangkan apa akibatnya bila anak kita punya keterikatan, “bonding” dengan pornografi. Akan terjadi desentisasi atau mati rasa terhadap hal-hal yang normalnya menimbulkan sensasi senang yang layaknya akan didapatkan bila ia berhubungan dengan manusia lain. Hal ini dapat menyebabkan perubahan perilaku pada anak terutama bila sudah pada tahap adiksi.

Hormon terakhir adalah serotonin, hormon pengatur suasana hati. Setelah oksitosin keluar pada saat sensasi puncak, keluarlah serotonin yang akan menimbulkan sensasi ketenangan, kepuasan dan lepasnya ketegangan. Dengan ketergantungan keluarnya serotonin dengan paparan pornografi, anak akan menjadi sulit lepas darinya. Ini dapat mempengaruhi nafsu makan, pola tidur, kemampuan otak anak untuk menyimpan memori dan belajar.

Begitulah kerusakan yang bisa terjadi pada otak dan diri anak-anak kita bila mereka terpapar dengan pornografi. Hingga Bu Elly Risman dalam makalahnya

“Memahami Dahsyatnya Kerusakan Anak Akibat Kecanduan Pornografi dan Narkoba dari Tinjauan Kesehatan Intelegensia ” mengatakan, “Tidak perlu Bom untuk menghancurkan Indonesia.”

Resiko apa lagikah yang dapat diakibatkan oleh pornografi? Masihkan kita sebagai orang tua merasa tenang karena anak-anak anteng di depan layar masing-masing sementara kita mengerjakan sesuatu atau juga kita sibuk dengan gadget kita sendiri? Bagaimanakah perilaku orang pada umumnya pada jaman digital ini? Di lain pihak, bagaimanakah penemuan para peneliti untuk paparan layar gadget pada anak-anak kita?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *