Mendidik anak untuk mudah bersosialisasi dengan teman dan lingkungan

Pada suatu hari saat Adi bersama ibunya masuk di sekolah baru, Adi yang masih berusia 3 tahun terus berada di belakang ibunya dengan memegangi baju dan sesekali saat didekati teman-temannya yang sudah berada di sekolah tersebut maka Adi akan memukulkan tangannya ke arah teman yang ingin berkenalan dengannya, fenomena demikian lumayan sering kita jumpai di saat-saat pendaftaran siswa baru di playgroup atau taman kanak-kanak, hal ini tentunya sangat menggelisahkan orang tua dan juga membuat jengkel teman-temanya yang berniat baik ingin berkenalan juga para guru akhirnya mendapatkan “PR” baru karena keadaan tingkah laku anak tersebut, yang menjadi pertanyaan adalah kenapa anak masih usia tahun berperilaku sudah memiliki rasa malu atau ketakutan, padahal semestinya anak usia 3 tahun mereka akan ceria, mereka akan tidak terpengaruh oleh lingkungan.

Hal ini semua tidak lepas dari pembiasaan sikap yang dilakukan oleh orang tuanya maupun orang tua terhadap anaknya tersebut, anak yang memiliki karakter demikian biasanya diawali saat dia berusia kurang lebih 20 bulan dimana orang tua kemungkinan terbiasa :

  1. Manakut-nakuti anak, contoh kasus :
    Anak ketika tidak mau menuruti perintah orang tua maka orang tua mengatakan : ( awas lhoo…nanti disuntik pak dokter, nanti dipegang pak polisi, nanti dijemput orang gila dan lain-lain ).
  2. Protektif
    Orang tua selalu memenuhi kebutuhan anak dengan nyaris sempurna misalkan susu dibotol selalu tersedia 5 botol dengan tujuan agar saat anak menginginkan susu, maka susu bisa langsung tersedia. Segala permintaan anak selalu dituruti karena khawatir jangan sampai anak itu menangis.
  3. Sering dicegah atau dilarang.
    Orang tua biasanya akan tidak mampu membiarkan anaknya berbuat sesuai dengan usianya, jika anak itu masih balita khususnya usia 2 – 4 tahun pastilah banyak yang ingin dicoba diamati dilakukan oleh anak ( masa eksplorasi ) biasanya orang tua ketika anak meloncat-loncat, berlari, naik tangga memegang benda-benda yang menurut anak itu menarik maka orang tua akan serta merta menarik atau membentak atau melarang anak dengan nada spontan sehingga menjadikan saraf-saraf otak yang baru akan mencoba melakukan hal-hal baru menjadi aus ( gagal untuk bertaut dengan syaraf-syaraf yang lain ).
  4. Karakter orang tua.
    Jika orang tuanya adalah orang yang pemalu, tidak biasa berbicara didepan kelompok manusia atau orang tua yang kurang bergaul dilingkungannya ini akan berefek juga kepada sikap anak-anak.

Keempat hal diatas diantaranya yang menjadikan sebab pada anak untuk tidak berani menampilkan dirinya dan menolak keramahan teman-temannya karena hal-hal diatas itu bagi anak akan direspon sesuai dengan kapasitas berfikir mereka diantaranya dimulai :

a. Jika orang tua atau lingkuangan terbiasa menakut-nakuti maka karena anak tidak bisa memilah serius atau guyonan maka “menakut-nakuti” bagi anak akan direspon serius bahwa semua orang yang tidak dikenal akan menakutkan termasuk saat anak bertemu dengan anak atau guru yang baru ditemui disekolah barunya sehingga agar anak bisa nurut terhadap segala yang kita anggap bahaya atau tidak baik untuk anak cukuplah orang tua memberikan alasan yang bisa diterima akal si anak.

b. Yakni protektif maka yang muncul dari anak adalah pemikiran ketika dia tidak berposisi dirumah pastilah fasilitas tidak akan seenak dirumah sehingga yang perlu kita netralkan kepada anak adalah latihan-latihan dirumah agar anak dapat melihat masalah hidup itu dengan berbagai sudut pandang, diantaranya ada hal yang bisa tercukupi dan ada juga hal-hal yang tidak bisa terpenuhi sehingga orang tua bisa melatih berupa pembuatan susu dilakukan setelah anak meminta, agar anak berlatih untuk menahan emosi dengan menunggu proses pembuatan susu

c. Perilaku mencegah anak juga akan mempengaruhi perkembangan otak anak sehingga anak mudah merasa asing terhadap lingkungannya karena anak sudah merasa ketakutan bersikap karena khawatir mendapatkan celaan dari orang tuanya sehingga yang bisa kita lakukan apapun yang dilakukan oleh anak-anak sepanjang tidak berbahaya dan tidak melanggar adab lingkungan sebaiknya orang tua membiarkannya agar anak tumbuh kepercayaan dirinya karena tidak sering mendapatkan celaan atau larangan dari orang tua dan lingkunganya.

d. Adapun karakter bawaan orang tua yang kurang bisa bergaul atau berkomunikasi dengan kelompok atau lingkungan maka dari fihak orang tuapun mesti berusaha untuk berubah karena anak-anak kita pastilah akan menangkap gelagat yang dimiliki oleh orang tuanya dan si anak pun sedikit atau banyak akan menirunya.

Dimikianlah beberapa sebab dan sekaligus cara mengatasinya agar anak lebih mudah bersosialisasi dengan lingkungannya, karena bagaimanapun juga ketika anak mengalami kesulitan bersosialisasi maka, kemampuan-kemampuan yang lain diantaranya kognitif ( kecerdasan, kepercayaan diri, kreatifitas ) juga akan terhambat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *