Gangguan Konsentrasi Hiperaktivitas Pada Anak

Di pagi hari yang cerah di musim hujan, aktifitas suatu sekolah dasar di pagi hari itu cukup sibuk dengan kegiatan belajarnya, ada yang dengan tekun belajar di dalam kelas, ada yang sebagian belajar di halaman kelas dengan didampingi ustadzahnya, dan ada juga yang sibuk keliling ruangan kelas mengobservasi lingkungan sekolah dengan pengarahan ustadznya. Namun saya melihat dua anak lari-lari dan beraktifitas sendiri tidak mengikuti kegiatan belajar yang ada, lalu saya tanya sedang apa mas kok di sini? Jawabnya sedang bermain pak, kok nggak sama temannya?, bosan pak gitu-gitu saja belajarnya, aku ingin lari-lari sendiri lihat kesana kemari, banyak ini itu….katanya.

Kemudian saya tanyakan sama ustadzahnya, “ kenapa ust. kok dua anak itu bermain sendiri tidak ikut kegiatan belajar di kelas bersama temannya ?. “ Ustadzah itu pun menjawab, “itu pak dua anak itu sulit untuk duduk berlama-lama, suka usil ganggu teman di kelas, pekerjaan sekolah jarang selesai, sering keluar kelas bermain-main sendiri melihat-lihat lingkungan sekitar yang meyenangkan sehingga sering menghilang dan kabur beberapa jam pelajaran maka prestasi belajarnya tertinggal.” Setelah saya tanyakan bagaimana belajar di rumah, ternyata dua anak tersebut sulit belajar dengan tertib, apa yang di ingat mudah lupa, saat sedang belajar sering terganggu suara-suara dari luar, kadang dia hanya diam, bengong saja tidak melakukan kegiatan apa-apa.

Itulah sekelumit kasus perilaku anak yang mengalami gangguan konsentrasi yang menyebabkan prestasi belajar anak tertinggal dan bahkan anak seperti ini sering di cap anak nakal, tidak mau mengikuti aturan, usil mengganggu teman dan lain-lain. Apa dan bagaimana anak yang mengalami gangguan konsntrasi?

Anak yang mengalami ganguan konsentrasi ditandai dengan kesulitan bertahan pada satu aktifitas ( mudah bosan ), pada saat belajar mudah terdistruksi atau terganggu hal-hal lain di sekitar tempat belajar, sering melamun dan bengong, mudah lupa, belajar tidak mandiri (sering bertanya dan minta bantuan), dan sering kehilangan barang yang dibutuhkan, anak yang mengalami gangguan konsentrasi sering tidak mengikuti instruksi dan sering tidak mendengarkan apabila orang lain sedang bicara padanya, selain itu anak yang mengalami gangguan konsentrasi sering menghindar dari tugas-tugas yang membutuhkan perhatian lama dan kesulitan mengatur jadwal, tugas dan kegiatan sehingga tugas-tugas sering tidak selesai.

Ada dua jenis gangguan konsentrasi pada anak, pertama gangguan konsentrasi tidak disertai dengan hiperaktifitas, pada gangguan konsentrasi ini anak sering diam bengong melamun, mudah lupa pelajaran, dan banyak beraktifitas sendiri, sedangkan gangguan konsentrasi yang kedua disertai denga Hiperaktifitas yang terkenal dengan nama ADHD ( Atention Deficite Hiperaktif Disorder ). Gangguan konsentrasi dan hiperaktifitas ditandai banyak gerak pada anak yang berlebih-lebihan yang tidak bertujuan dan tidak sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada.

Adapun ciri perilaku anak yang mengalami gangguan konsentrasi dan hiperaktifitas adalah sebagai berikut :

Impulsivitas, yaitu anak tidak sabaran menunggu sesuatu, tidak sabaran untuk selalu berkata-kata, menyela dan tidak bisa antri.
Sering memberikan jawaban sebelum pertanyaan selesai, dan sering memotong pembicaraan orang lain.
Anak yang mengalami gangguan konsentrasi dan hiperaktifitas cenderung agresif menyerang teman, bisa berupa kata-kata atau bahkan serangan berupa fisik misalnya memukul dan usil pada temannya.
Sembrono, anak yang mengalami gangguan konsentrasi dan hiperaktifitas sering melakukan tanpa fikir panjang.
Sering berteriak di kelas dan permintaan harus segera dipenuhi, kalau ada sedikit tekanan misalnya permintaan tidak dipenuhi anak yang mengalami gangguan konsentrasi dan hiperaktifitas mudah frustasi dan putus asa.
Sulit duduk diam, dan apabila dipaksakan untuk duduk diam anak yang mengalami gangguan konsntrasi dan hiperaktifitas sering menggerak-gerakkan kaki pada saat diam dan menggeliat-geliat seolah tidak tahan untuk duduk diam.
Mengalami kesulitan untuk kegiatan yang tenang, misalnya kegiatan upacara, baris berbaris dan sebagainya.
Anak yang mengalami gangguan konsentrasi dan hiperaktifitas bergerak seolah-olah ada motor penggerak diluar kesadarannya sehingga kesulitan untuk mengontrol geraknya misalnya sedikit-sedikit berlari dan sering naik pohon.

Seandainya perilaku anak kita banyak kesamaan dengan ciri-ciri di atas besar kemungkinan anak kita mengalami gangguan konsentrasi, sebelum diperiksakan ada beberapa tips untuk mendidik anak yang mengalami gangguan konsentrasi dan hiperaktifitas :

Latih anak dengan pembiasaan berupa jadwal harian secara tertulis mulai dari bangun tidur, sekolah bermain sampai tidur lagi secara detail, juga jadwal perhari senin sampai minggu, serta jadwal mingguan dan bulanan.
Ada ruangan khusus belajar di rumah secara tersendiri yang bebas dari distruksi.
Berikanlah pelajaran secara bertahap dan per materi, misalnya pada saat belajar matematika berikanlah secara bertahap dan jangan diberikan pelajaran yang lain (sehari satu tema pelajaran)
Ruangan belajar sebaiknya polos (tidak banyak gambar-gambar yang menarik perhatian) dan dengan warnah teduh misalnya hijau daun yang cerah.
Biasakan selalu berdoa secara khusus sebelum dan sesudah belajar, karena dengan berdoa otak anak dalam kondisi alfa yang terlatih memperkuat syaraf-syaraf otak untuk tenang dan fokus.
Di dalam kelas anak yang mengalami gangguan konsentrasi dudukkan di depan sebelah kanan, karena dengan demikian anak akan sering melihat langsung ke depan sebelah kiri anak. Secara umum penglihatan ke sebelah kiri lebih mudah dilakukan anak dari pada ke sebelah kanan.
Lakukan gerakan senam otak 2 – 3 menit sebelum pelajaran di mulai.

Setelah kita melakukan pembimbingan belajar secara intensif dengan menggunakan tips-tips di atas ternyata belum ada perkembangan setelah tiga bulan maka sebaiknya anak yang mengalami gangguan konsentrasi dan hiperaktifitas diperiksakan kepada Psikolog untuk dilakukan assesment seberapa besar tingkat gangguan konsentrasinya serta untuk mendapatkan program terapi Sensori Integrasi dan terapi Okupasi secara tepat.

Wallahu a’lam bish-showaab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *