Tafsir Surat AL BAQOROH Ayat ke 4

وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِاْلآخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَ

“Dan orang-orang yang beriman kepada kitab (al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab kitab yang telah diturunkan sebelummu…….” (QS. Al-Baqarah [2]: 4)

Iman kepada kitab Allâh termasuk rukun iman yang keempat. Kita meyakini bahwa Allâh swt telah menurunkan kitab suci al-Qur’an maupun kitab-kitab sebelum al-Qur’an sebagai hujjah bagi seluruh isi alam dan pegangan bagi manusia untuk mengamalkan perintah-perintah Allâh swt. Kitab suci memberi petunjuk dan pengetahuan bagi manusia dan untuk membenarkan keberadaan para Rasûl yang diutus Allâh swt. Allâh berfirman dalam Q.S. an-Nisâ’ ayat 136 :

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا آمِنُوْا بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلكِتَابِ الَّذِيْ نَزَّلَ عَلَى رَسُوْلِهِ وِاْلكِتَابِ الَّذِيْ أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيْدًا

“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisâ’ [4]: 136)

Kita harus mengimani al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw dan juga beriman kepada kitab-kitab sebelumnya yaitu, Taurot kitab suci yang diturunkan Allâh kepada Nabi Musa as untuk hujjah dan bukti kenabian Nabi Musa dalam menyampaikan dakwah tauhid kepada Bani Isrâil. Kemudian Injil, kitab suci yang diberikan Allâh kepada Nabi Isa as. Kitab ini kecuali berfungsi sebagai bukti kerasulan Nabi Isa juga menambah kebenaran Taurot serta melengkapinya. Dan kitapun harus iman juga kepada kitab Zabur yang diturunkan keada Nabi Daud yang kesemuanya mempunyai fungsi dan isi yang sama seperti yang ada dalam al-Qur’an yaitu Tauhid. Menyerukan kepada semua manusia untuk menyembah hanya kepada Allâh saja dan tidak mempersekutukannya. Dan al-Qur’an membenarkan keberadaan kitab-kitab sebelumnya. Dijelaskan Allâh dalam Q.S. al-Mâ’idah

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ اْلكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ اْلكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَّمِنْهَاجًا وَّلَوْ شَاءَ اللهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَّاحِدَةً وَلَكِنْ لِّيَبْلُوَكُمْ فِيْ مَا آتَاكُمْ فَاسْتَبِقُوْا اْلـخَيْرَاتِ إِلَى اللهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيْعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَ

“Dan Kami telah turunkan kepadamu al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allâh turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allâh menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allâh hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allâh-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,”(QS. Al-Mâ’idah [5]: 48).

Kitab-kitab suci terdahulu diturunkan kepada umat tertentu di mana Nabi hiduppada masa itu. Dengan diturunkannya al-Qur’an maka Allâh menasakhkan kitab-kitab sebelum al-Qur’an dan menjadikannya al-Qur’an hujjah sampai hari kiamat nanti. Artinya orang orang Yahudi ataupun Nasrani sudah semestinya mereka akan iman kepada al-Qur’an kalau mereka mengakui sebagai umat yang beriman kepadaTaurot dan Injil. Sayangnya kitab-kitab sebelum al-Qur’an yaitu kitab Taurot dan Injil sudah banyak yang dirubah, ditambahi dan dikurangi isinya oleh pendeta-pendeta dan ulama-ulama mereka sehingga akhirnya jauh menyimang dari isi aslinya yaitu ajakan TAUHID. Dan itu pula yang menjadikan orang orang Yahudi Nasrani mengingkari al-Qur’an. Seperti yang dijelaskan Allâh dalam Q.S.an-Nisâ’

مِنَ الَّذِيْنَ هَادُوْا يُحَرِّفُوْنَ اْلكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَيَقُوْلُوْنَ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاسْمَعْ غَيْرَ مُسْمَعٍ وَّرَاعِنَا لَيًّا بِأَلْسِنَتِهِمْ وَطَعْنًا فِيْ الدِّيْنِ وَلَوْ أَنَّهُمْ قَالُوْا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَاسْمَعْ وَانْظُرْنَا لَكَانَ خَيْرًا لـَّهُمْ وَأَقْوَمَ وَلَكِنْ لَّعَنَهُمُ اللهُ بِكُفْرِهِمْ فَلاَ يُؤْمِنُوْنَ إِلاَّ قَلِيْلاً

“Yaitu orang-orang Yahudi, mereka merubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata: “Kami mendengar”, tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula): “Dengarlah” sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan): “Raa`ina”, dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan: “Kami mendengar dan patuh, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami”, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis.”(QS. An-Nisâ’ [4]: 46)

Maka bisa kita lihat saat ini orang orang Yahudi tidak lagi seperti Bani Isrâil pada awal-awal dakwah bersama nabi Musa. Sekarang mereka adalah orang-orang yang keras menentang kedudukan Nabi Muhammad sebagai Rasûl dari sebab rasa dengkinya mengapa Nabi yang diharap-harap akan membawa mereka kepada kemenangan bukan datang dari bangsanya yaitu bangsa Isrâil akan tetapi justru datang dari bangsa Arab. Dengan kelebihan-kelebihan yang diberikan Allâh kepada Bani Isrâil tidak menjadikannya bangsa yang bersyukur akan tetapi justru membuat makar kepada Allâh dalam bentuk, menghilangkan eksistensi al-Qur’an serta mengkhianati Taurot dan Injil. Dan kedua makar ini adalah kejahatan yang luar biasa yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi

وَبِاْلآخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَ

……dan kepada hari akhir mereka beriman…..

Kita beriman kepada hari akhir, atau orang-orang orang biasa mengistilahkan hari PEMBALASAN. Akan tetapi yang lebih tepat adalah hari PERADILAN, karena pada hari itu semua manusia akan menghadapi Peradilan Allâh dengan seadil-adilnya atas amal-amal yang dilakukannya ketika di dunia. Dengan hasil akhir ada sebagian orang yang dimasukkan dalam surga Allâh karena ketika di dunia mempunyai amal-amal yang baik, dan di Hari Peradilan menerima catatan amal yang baik pula. Dan sebagian yang lain dimasukan ke dalam neraka dengan adzab yang amat pedih dari sebab catatan amal yang diterimanya lebih berat amal amal buruk daripada amal baiknya, karena ketika di dunia lebih banyak berbuat penyimpangan dan maksiyat kepada Allâh swt.

Penjelasan Allâh dalam Q.S.adz-Dzâriyât : 12-16
Hari kiamat adalah Hari Pembalasan di mana orang-orang syirik dan orang-orang yang berdosa lainnya akan menerima adzab neraka karena mereka terfitnah dengan kehidupan dunia. Adapun fitnah terbesar dalam kehidupan manusia adalah fitnah SYIRIK. Dan hari kiamat adalah Hari Pembalasan bagi orang-orang yang TAQWA, yaitu akan mendapatkan kenikmatan yang luar biasa JANNATUN NA’IM. Karena ketika di dunia kehidupannya diorientasikan untuk mendapatkan RIDLO ALLAH. Sehingga amalan-amalannya selalu mempertimbangkan ketentuan ketentuan Allâh dan Rasûl-NYA. Serta sangat takut dengan maksiat kepada Allâh swt. Kita mempercayai bahwa kelak di hari akhir kepada kita akan diperlihatkan apa-apa yang telah kita kerjakan ketika di dunia, dan masing-masing akan menerima catatan-catatan amal kita, sebagaimana yang difirmankan Allâh dalam Q.S.al-Insyiqaq

فَأَمَّا مَنْ أُوْتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِيْنِهِ. فَسَوْفَ يُحَاسَبَ حسَابًا يَسِيْرًا. فَسَوْفَ يَدْعُوْ ثُبُوْرًا. وَيَصْلَى سَعِيْرًا

“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya,. maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak: “Celakalah aku”. Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).”(Q.S. Al-Insyiqâq [84]: 7-12)

Pada hari itu peradilan Allâh akan ditegakkan dengan seadil-adilnya kepada semua manusia, tidak ada seorangpun yang merasa terdzolimi sedikitpun. Hal tersebut akan dihadapi dan dirasakan bahkan oleh orang-orang kafir yang akan menjadi penghuni neraka. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Anas bin Malik ra bahwa Rasûlullâh saw bersabda :

“Pada Hari Kiamat manusia dikumpulkan dalam keadaan telanjang bulat (buhman). Kami bertanya, apakah buhman itu? Rasûlullâh menjawab, tidak memakai selembar kainpun. Kemudian dipanggil dengan suara yang setiap orang mendengar seakan-akan dari jarak dekat. Kami penguasa, Kami pemutus perkara. Tidak patut bagi seorang ahli neraka masuk neraka selama masih ada hak dengan ahli surga sehingga Aku membalasnya. Tidak patut bagi seorang ahli surga masuk surga selama masih ada hak bagi ahli neraka sehingga Aku membalasnya, sekalipun berupa tamparan.”

Yang terpenting dalam mengimani hari Akhir adalah percaya adanya beberapa kejadian yang akan dihadapi oleh manusia, yaitu… Dalam hari Peradilan kita meyakini adanya hari KEBANGKITAN, yaitu ketika manusia dibangkitkan kembali dari kuburnya. Q.S.al-A’râf

قَالَ فِيْهَا تَحْيَوْنَ وَفِيْهَا تَمُوْتُوْنَ وَمِنْهَا تُخْرَجُوْنَ

“Allah berfirman: “Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan.” (Q.S al-A’râf [7]: 25)

Setelah malaikat Isrofil meniup sangkakala maka manusia bangkit dari kuburnya dan berbondong-bondong menuju Padang Mahsyar. Seperti penjelasan Allâh dalam Q.S Yâsîn :

سُبْحَانَ الَّذِيْ خَلَقَ اْلأَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنْبِتُ اْلأَرْضُ وَمِنْ أَنْفُسِهِمْ وَمِمَّا لاَ يَعْلَمُوْنَ

“Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.”(QS. Yâsîn [36]: 36).

Dalam hari PERADILAN kita meyakini adanya HISAB yaitu penghitungan amal manusia ketika di dunia. Pada saat itu Allâh swt memperlihatkan semua amal manusia dan mereka mengakuinya dengan disaksikan tangan dan kaki masing masing. Firman Allah dalam QS. an-Nûr

يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيْهِمْ وَأَرْجُلُهِمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

“Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. An-Nûr [24]: 24)

Dalam dari PERADILAN kita meyakini adanya MIZAN yaitu timbangan untuk menimbang amal orang-orang beriman sekalipun iman mereka hanya sedikit sekali. Adapun orang-orang kafir dan munafik yaitu orang-orang yang mengingkari ayat-ayat al-Qur’an, amal mereka tidak ditimbang karena tidak ada nilainya di hadapan Allâh swt. Dijelaskan firman Allâh dalam Q.S. Al-Kahfi

أُولَئِكَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلاَ نُقِيْمُ لَهُمْ يَوُمَ اْلقِيَامَةِ وَزْنًا

“Mereka itu orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kafir terhadap) perjumpaan dengan Dia. Maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.” (QS. Al-Kahfi [18]: 105).

Dan dalam hari PERADILAN kita harus meyakini adanya SHIROTH yaitu jembatan yang sangat kecil dan panjang yang melintasi di atas neraka menuju surga. Dan semua orang akan melewatinya baik para Nabi, orang-orang beriman, orang-orang kafir. Disampingnya ada KALALIB alat yang berfungsi menarik orang-orang kafir yeng melewati SHIROTH untuk masuk ke dalam neraka. Sabda Rasûlullâh saw dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairoh ra :

إِنِّيْ رَأَيْتُ اْلـجَنَّةَ فَتَنَاوَلْتُ عُنْقُوْدًا وَلَوْ أَصَبْتُهُ لَأَكَلْتُمْ مِنْهُ مَا بَقِيَتْ الدُّنْيَا وَأُرِيْتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ مَنْظَرًا كَاْليَوْمِ قَطُّ أَفْظَعَ.

“Aku melihat surga maka aku (ingin) mengambil setandan, jika aku memperolehnya pastilah kalian memakannya maka tidak tersisa dunia ini. Dan aku diperlihatkan neraka maka aku tidak melihat pemandangan seperti hari ini yang benar-benar mengerikan.” Jannah dan nâr sebagai hasil akhir, di hari PERADILAN yang harus kita yakini.

Jannah adalah tempat yang disediakan bagi orang-orang beriman. Sedangkan nâradalah neraka yang disiapkan untuk orang-orang kafir. Surga dan neraka ini sudah diciptakan Allâh swt. Seperti yang difirmankan Allâh dalam QS. Ali Imran

وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَاْلأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,”(QS. Ali Imran [3]: 133)

وَاتَّقُوْا النَّارَ الَّتِيْ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِيْنَ

“Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.”(QS. Ali Imran [3]: 131)

Dan di dalam hari PERADILAN kita mempercayai adanya “Syafa’at Uzhma”…pertolongan besar dari Nabi Muhammad saw diberikan kepada semua manusia ketika sedang mengalami keadaan yang sangat menyusahkan ketika dikumpulkan di Padang Mahsyar dan menanti keputusan yang akan terjadi selanjutnya. Ketika orang-orang datang dan minta pertolongan kepada Nabi Adam As, kemudian kepada Nabi Nuh, Ibrahim, Musa dan Nabi Isa. Dan akhirnya mereka mendapat pertolongan besar dari Nabi Muhammad saw berkat izin khusus yang diberikan oleh Allâh swt kepada Nabi Muhammad saw, untuk menyegerakan proses peradilan dan mereka tidak tersiksa dan ketakutan yang teramat takut di Padang Mahsyar.

Allâhu ‘alam bish-showab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *