Meyakini Hukum THAGHUT

Perbuatan – perbuatan yang Membatalkan Dua Kalimat Syahadat
Islam adalah agama yang sempurna yang diturunkan kepada umat akhir zaman yang meliputi atauran – aturan untuk kebahagiaan dunia dan akherat. Sebagaimana yang banyak ditulis oleh para ulama,

الدِّيْنُ الْإِسْلَامِي هُوَ مَا أَنْزَلَ اللهُ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَمَا جَاءَ بِهِ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلُيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الْأَوَامِرِ وَالنَّوَاهِي وَالْإِرْشَادَاتِ لِصِلَاحِ الْعِبَادِ دُنْيَاهُمْ وَأُخْرَاهُمْ

Agama Islam adalah syari’at yang diturunkan Allah SWT di dalam Al Qur anul Karim dan yang dibawa oleh Rasulullah SAW yang berupa perintah – perintah , larangan – larangan dan petunjuk – petunjuk untuk kebaikan kehidupan hamba – hamba-Nya di dunia dan di akherat.

Salah satu bukti kesempurnaannya adalah bahwa ajaran Islam banyak mengandung petunjuk-petunjuk dan peraturan-peraturan yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Oleh karena itu, maka dalam kehidupan manusia tidak ada satu aspek pun yang tidak tersentuh oleh petunjuk dan aturan Islam, langsung ataupun tidak langsung. Dan semua petunjuk dan peraturan – peraturan tersebut penuh dengan rahmat yang sempurna dan juga penuh dengan keadilan yang sempurna. Semua itu dikarenakan kesempurnaan Islam bertolak dari kesempurnaan Allah SWT, Dzat Yang menurunkan Islam kepada hamba – hamba -Nya sebagai pedoman hidup.

Barangsiapa yang menganggap adanya kekurangan dalam ajaran Islam walaupun hanya sedikit saja, maka orang itu telah menganggap bahwa Allah SWT bukanlah Dzat Yang Maha Sempurna.

Pada pembahasan kali ini adalah pembatal Dua Kalimat Syahadat yang keempat yaitu meyakini bahwasanya ada petunjuk selain petunjuk Rasulullah SAW yang lebih sempurna atau meyakini bahwa ada hukum selain hukum yang dibawa Rasulullah SAW yang lebih baik . Meyakini bahwa Hukum Thaghut tersebut lebih cocok dengan kondisi sekarang.

Demikian juga meyakini bahwa ada hukum lain yang sama baiknya dengan hukum Rasulullah SAW , atau meyakini bahwa hokum Rasulullah SAW lebih baik tetapi boleh berhukum dengan hukum lain karena kondisi tertentu , atau meyakini bahwa hokum Rasulullah lebih baik tetapi kondisinya belum memungkinkan untuk diterapkan sehingga menganjurkan hukum lain. Semua perbuatan tersebut membatalkan Dua Kalimat Syahadat , dan pelakunya kafir , keluar dari Islam.

Apakah thaghut itu ?
Pengertian thaghut secara bahasa kata ini diambil dari kata طَغَى artinya melampaui batas. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

إِنَّا لَمَّا طَغَى الْمَاءُ حَمَلْنَاكُمْ فِي الْجَارِيَةِ
Sesungguh ketika air melampaui batas Kami bawa kalian di perahu

Ibnu Katsir menukil dari Umar bin Khaththab ra bahwa thaghut itu adalah syaithan. Beliau berkata :Yang di maksud dengan thaghut di dalam firman Allah adalah syaithan, arti ini sangat kuat, karena mencakup segala kejelekan orang-orang jahiliyyah yang beribadah kepada berhala, berhukum kepadanya dan meminta pertolongan kepadanya.”

Ibnu Qayyim berkata : Thaghut adalah segala sesuatu yang di jadikan pemutus perkara oleh suatu kaum, selain Allah SWT dan rasul-Nya, atau disembah, diikuti petunjuknya, atau dita’ati perintahnya yang berlawanan dengan Allah dan rasul-Nya.

Inilah thaghut di dunia ini, apabila memperhatikan keadaan mereka bersama thaghut ini, kita akan melihat mereka kebanyakan berpaling dari berhukum kepada Allah dan rasul-Nya lalu berhukum kepada thaghut, dan berpaling dari menta’ati Allah dan mengikuti rasul-Nya lalu mentaati dan mengikuti tahghut.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullahu berkata : Tokoh thaghut ada lima :

Pertama, iblis la’natullah ‘alaih, orang yang disembah dan dia ridha diperlakukan demikian orang yang menyeru orang lain agar menyembah diri orang yang mengaku mengetahui ilmu ghaib dan orang yang berhukum selain dengan hukum Allah subhanahu wa ta’ala. Iblis yaitu setan yang terkutuk dan dilaknat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentangnya :

وَإِنَّ عَلَيْكَ لَعْنَتِي إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
Sesungguh laknat-Ku atas kamu sampai hari kiamat.

Awalnya iblis bersama malaikat tetapi iblis membangkang dan enggan bersujud kepada Adam as. Ketika diperintah untuk sujud kepada Adam ‘alaihissalam itulah tampak kesombongan Iblis.

Kedua, seorang yang disembah dalam keadaan ridha. Adapun orang yang tidak ridha disembah orang lain bukanlah thaghut.

Ketiga, orang yang menyeru orang lain untuk menyembah dirinya. Dia termasuk thaghut baik ada orang lain yang mengikuti dakwah ataupun tidak. Dia sudah menjadi thaghut dengan semata menyeru orang untuk menyembah dirinya.

Keempat, orang yang mengaku mengetahui sesuatu tentang ilmu ghaib, padahal ilmu ghaib adalah kekhususan Allah subhaanahu wa ta’ala.

قُلْ لاَ يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللهُ
Katakanlah wahai Muhammad tidak ada yang mengetahui perkara ghaib di langit dan bumi kecuali Allah
Rasulullah saw menyatakan :

مِفْتَاحُ الْغَيْبِ خَمْسٌ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ اللهُ؛ لاَ يَعْلَمُ أَحَدٌ مَا يَكُوْنُ فِي غَدٍ، وَلاَ يَعْلَمُ أَحَدٌ مَا يَكُوْنُ فِي اْلأَرْحَامِ، وَلاَ تَعْلَمُ نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا، وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوْتُ، وَمَا يَدْرِي أَحَدٌ مَتَى يَجِيْءُ الْمَطَرُ
Kunci-kunci perkara ghaib ada lima, tidak ada yang mengetahui kecuali Allah, tidak ada seorangpun yang tahu apa yang akan terjadi besok, tidak ada seorangpun yang tahu apa yang ada di dalam rahim-rahim. Suatu jiwa tidak mengetahui apa yang akan ia lakukan besok dan tidak mengetahui di negeri mana dia akan mati, tidak ada seorangpun yang mengetahui kapan hujan turun.

Maka barangsiapa mengaku mengetahui perkara ghaib berarti telah kafir karena telah mendustakan apa yang telah diterangkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan rasul-Nya. Termasuk golongan thaghut yang keempat adalah tukang sihir dan dukun-dukun.

Kelima, orang yang berhukum dengan selain hukum Allah subhaanahu wa ta’ala . Berhukum dengan hukum Allah Tauhid Uluhiyyah dan meyakini bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah Hakim yang sebenar-benar adalah termasuk Tauhid Rububiyah. Oleh karena itu Allah SWT menyebut orang yang diikuti oleh pengikut mereka dalam hal yang menyelisihi apa yang diturunkan oleh Allah sebagai rabb bagi pengikut mereka. Sebagaimana dalam firman – Nya :

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُوْنِ اللهِ
Mereka menjadikan pendeta – pendeta dan tukang ibadah mereka sebagai rabb selain Allah.

Berhukum dengan selain hukum Allah SWT bisa termasuk kufur akbar yg mengeluarkan seorang dari Islam dan bisa pula kufur ashgar yg tdk mengeluarkan seseorang dari Islam. Hal ini sesuai dgn keyakinan pelakunya. Karena orang yg berhukum dgn selain hukum Allah.

Fatwa Kibar Ulama Arab Saudi dalam Fatwa Lajnah Da’imah menyebutkan : Yang di maksud dengan thaghut di dalam Al-Qur’an surat An-Nisaa’ ayat 60 adalah segala sesuatu yang memalingkan manusia dari Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk berhukum kepadanya baik itu berupa sistem atau undang-undang positif atau adat istiadat yang di wariskan dari nenek moyang mereka pemimpin-pemimpin suku untuk memutuskan perkara antara mereka dengan hal tersebut atau dengan pendapat pemimpin jama’ah tertentu atau dukun.

Dari situ jelaslah bahwa sistem yang di buat tersebut untuk berhukum kepadanya yang bertentangan dengan syari’at Allah subhanahu wa ta’ala masuk ke dalam pengertian thaghut.

Misalnya seperti orang-orang yang lebih memilih hukum-hukum buatan manusia dari pada hukum yang dibawa oleh Rasulullah saw dengan berbagai dalih dan alasan. Sebagaimana para pengikut sekulerisme yang memisahkan antara dunia dan akhirat. Mereka memandang bahwa aturan Allah dan rasul–Nya hanya untuk mengatur hubungan vertikal peribadatan hamba dengan Tuhannya. Sementara untuk mengatur hubungan horisontal sesama manusia, menggunakan hukum positif buatan akal sebagai kesepakatan manusia.

Maka perbuatan seperti ini termasuk perbuatan yang membatalkan dua kalimat syahadat, dan pelakunya kafir, karena membangkang, menentang dan menandingkan hukum Allah subhanahu wa ta’ala dengan hukum lain. Allah SWT berfirman,

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin ( QS. Al Maidah : 50 )

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
“Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Alloh, maka mereka adalah orang-orang kafir.” ( QS. Al Maidah : 44 ).

Hanya melalui Al-Qur’an dan Sunnah Rasul itulah Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan hukum–hukum-Nya. Oleh karena itu, hanya dengan ketundukan kepada hukum–hukum-Nya-lah, maka akan terwujud penyerahan diri secara total kepada-Nya. Ketika hukum–hukum Allah telah sempurna dan mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, maka penyerahan diri kepada-Nya pun harus mencakup seluruh kehidupan, baik dalam kehidupan pribadi perorangan maupun kehidupan bermasyarakat. Maka, semua aspek kehidupan harus ditundukkan kepada Allah, baik dalam peribadatan, akhlak, politik, ekonomi, maupun dalam gerak-gerik batin seseorang sekalipun.

Akan tetapi hukum thaghut memalingkan fitrah seorang hamba tersebut untuk selalu berjalan di atas aturan rabbnya.

Berkaitan dengan hukum-hukum pribadi, seperti peribadatan perorangan, akhlak, mu’amalah dan lainnya, para pemuja thaghut berusaha menyuburkan bid’ah, menyebarkan kerusakan akhlak dan mengkerdilkan pentingnya pendidikan kitab dan sunnah yang benar.

Berkaitan dengan hukum-hukum sosial masyarakat, mereka mendirikan sistem-sistem sekuler di negara-negara kaum muslimin yang dijalankan oleh para pemimpin antek mereka, yaitu kaum munafik yang berasal dari generasi kaum muslimin sendiri, namun telah diisi dengan pemikiran anti Islam dan telah dikader untuk memperkuat barisan minoritas non muslim.

Fakta seperti ini bukan hanya ada di negeri kita Indonesia saja, bahkan dapat disaksikan di seluruh negeri-negeri kaum muslimin, dengan pola dasar yang sama.

Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah untuk diterapkan secara sempurna atau totalitas, bukan hanya untuk dibaca saja. Kedaulatan Allah terhadap hamba–hamba-Nya secara syar’i hanya akan terwujud apabila hukum-hukum-Nya diterapkan di muka bumi.

Sebagai orang-orang yang mengikuti manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang senantiasa berpegang teguh kepada Al-Qur’an, As Sunnah dan manhaj As Salaf Ash Shaleh, maka tidak dibenarkan sama sekali bagi kita untuk membenarkan seluruh pandangan dan pendapat Khawarij dalam hal pengkafiran. Oleh karena itu, apabila ada sebuah negara yang secara menyeluruh menegakkan syari’at Islam, maka penyelewengan secara parsial yang dilakukan oleh pribadi para pelaksana hukumnya adalah termasuk perbuatan kufur ashghar, yaitu kufur yang tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam.

Kecuali apabila terbukti bahwa penyelewengan tersebut terjadi karena sang pelaku menganggap bahwa hukum Alloh sama atau bahkan kurang baik dibandingkan dengan hukum thaghut, atau sang pelaku tidak merasa wajib untuk melaksanakan hukum Allah, jika demikian halnya, maka dalam hal ini kufurnya adalan kufur akbar, yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Kita juga tidak akan pernah membenarkan pandangan dan pendapat Murji’ah, yang beranggapan bahwa menyingkirkan hukum-hukum Allah secara menyeluruh ataupun sebagiannya, dan menggantinya dengan hukum thaghut adalah kufur ashghar. Hal ini adalah keliru, karena adanya penyingkiran termasuk kufur akbar, sebagaimana yang dengan gamblang telah dijelaskan dalam ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Ini merupakan gambaran umum tentang penjelasan pembatal keislaman yang keempat, yaitu berhukum dengan selain hukum Allah. Sebenarnya, permasalahannya amatlah panjang dan kompleks. Intinya, berhukum dengan selain hukum Allah SWT merupakan satu bentuk pengkhianatan dan pengingkaran terbesar terhadap kerububiyahan Allah . Yang mana perbuatan tersebut adalah kafir yang dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam. Na’udzu billaahi min dzalik.

Dengan demikian, tugas kita sebagai seorang muslim yang kaafah adalah bukan mencari-cari celah, mencari-cari alasan atau berbagai dalih lainnya untuk menghukumi bahwa pelaku orang yang berhukum dengan selain hukum Allah adalah hanya sekedar dosa besar. Akan tetapi tugas kita yang lebih selamat adalah berdakwah kepada ummat untuk menjelaskan tentang keagungan hukum Allah yang tidak boleh ditinggalkan dan juga menjelaskan kepada mereka yang mengambil hukum dengan selain hukum Allah agar kembali berhukum dengan hukum Allah dan memberi peringatan kepada saudara muslim akan bahaya menyelisihi hukum – Nya.

Inilah manhaj yang haq, manhaj yang senantiasa mengajak manusia menuju jalan Allah, bukan manhaj yang membiarkan manusia berada di dalam kesesatannya, bahkan melegalisasi kesesatannya dengan dalih-dalih yang belum pernah didapati di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah maupun ijma’ para Salaful ‘Ummah.

Semoga kita diberi kekuatan untuk senantiasa berjalan di atas aturan – aturan Allah dan Rasul – Nya . Amin.

( Syarhu Nawaqidhil Islaami lisy Syaikh Abdil Aziz bin Abdillah ar Raajihi , Al Burhaan fii Masa ilil Iman li Syaikh Abdil Wahid al Hasyim , ‘I’laamul Muwwaqi’in li Ibnil Qayyim al Jauziyah , Fatwa Lajnah Da imah bi Raqm 8008 ).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *