MEMPEROLOK – OLOK SIMBOL AGAMA

Lanjutan dari Perbuatan – perbuatan yang Membatalkan Dua Kalimat Syahadat
Perbuatan yang membatalkan dua kalimat syahadat yang keenam adalah memperolok–olok, merendahkan atau menghina permasalahan agama, seperti pahala, siksa, surga, neraka dan lain–lain, baik dalam keadaan bercanda maupun sungguhan.Maka barang siapa melakukan perbuatan–perbuatan di atas, sadar maupun tidak, bercanda maupun sungguhan, maka dia telah kafir, keluar dari agama Islam.

Sinaran Ed.19

Barang siapa memperolok permasalahan shalat, maka dia telah kafir.Barang siapa menghina permasalahan zakat, maka dia telah kafir.Barang siapa melecehkan permasalahan puasa, maka dia telah kafir.Barang siapa merendahkan dan mencaci orang yang melakukan shalat, zakat, puasa yang sedang dia amalkan, maka dia kafir.

Demikian juga sebagaimana yang dilakukan oleh para pembenci sunnah, mereka melecehkan orang yang memanjangkan jenggot, wanita yang memakai cadar, memakai celana kathung atau cingkrang dan orang yang bersiwak. Mengolok-olok muslim karena jenggotnya, cadarnya, celananya atau siwaknya, maka dia telah kafir. Karena berarti dia telah melecehkan dan menghina sunnah Rasulullah saw yang juga diperintahkan kepada umatnya.

Demikian juga orang–orang yang suka memperolok–olok tentang surga sebagai balasan bagi orang–orang beriman, mengarang–ngarang cerita lucu tentang surga dengan maksud melecehkan, atau dengan sombongnya mereka melecehkan neraka sebagai balasan bagi orang kafir dan munafiq. Mereka mengatakan akan senang di neraka karena bisa bersama para artis papan atas dalam keadaan telanjang, maka perkataan ini menyebabkan dia jatuh kepada kekafiran.

Mencemooh nash–nash yang mengatakan bahwa barang siapa membaca kalimat tauhid, membaca tasbih dan tahmid seratus kali maka dosa–dosanya diampuni meskipun sebanyak buih di lautan, maka dia telah kafir.

Kesimpulannya, barang siapa yang memperolok–olok segala hal yang berkaitan dengan agama, menghina atau melecehkan, maka dia telah kafir. Sebagaimana firman Allah swt :

قُلْ أَبِاللهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

“Katakanlah (Muhammad) apakah kalian memperolok–olok tentang Allah, tanda–tanda kekuasaan-Nya dan Rasul–Nya?Janganlah kalian membuat–buat alasan.Sungguh kalian telah kafir setelah beriman.”(QS. At-Taubah [9]: 65)

Ayat ini menjelaskan sikap orang-orang munafik terhadap Allah, Rasul-Nya dan kaum mukminin. Kebencian yang selama ini mereka pendam, terlahir dalam bentuk ejekan dan olok-olokan terhadap Allah dan Rasul-Nya. Berkaitan dengan ayat ini, Ibnu Katsir mencantumkan sebuah riwayat dari Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi dan lainnya yang menjelaskan kepada kita bentuk pelecehan dan olokan mereka terhadap Allah, Rasul-Nya dan ayat-ayat–Nya :

قاَلَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ: مَا رَأَيْنَا مِثْلَ قرائِنَا هَؤُلَاءِ أرْغَبَ بطونًا، ولَا أكذَبَ ألْسِنًا، ولا أجْبَنَ عنْدَ اللِّقَاءِ

Di antara mereka ada yang berkata:
“Menurutku, para qari’ (pembaca) kita ini hanyalah orang-orang yang paling rakus makannya, paling dusta perkataannya dan paling penakut di medan perang.”

Mereka menghina Rasulullah saw dan para sahabat adalah orang-orang yang paling banyak makan sehingga kebanyakan perut mereka buncit, paling banyak berdusta dan paling takut ketika berperang berhadapan dengan musuh.

Maka Auf bin Malik ra mendengar pembicaraan mereka dan menghardiknya,“Kalian adalah pendusta, bahkan munafik. Akan kusampaikan percakapan kalian pada Rasulullah.”

Sampailah berita tersebut kepada Rasulullah saw, lalu orang munafik itu menemui beliau, sedangkan beliau sudah berada di atas untanya bersiap-siap hendak berangkat. Ia berkata: “Wahai, Rasulullah. Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.”Maka turunlah firman Allah saw di atas.

Ditegaskan dalam ayat tersebut, bahwa barang siapa yang memperolok–olok simbol–simbol agama, maka dia telah kafir setelah iman (murtad), telah batal syahadatnya.

Perbuatan mengolok-olok agama dan syi’ar-syi’ar agama ini, bukan hanya muncul pada masa sekarang, namun akarnya sudah ada sejak dahulu. Banyak sekali bentuk-bentuk istihzâ’ yang dilakukan oleh orang-orang dahulu maupun sekarang, diantaranya dalam bentuk pelesetan-pelesetan yang menghina agama. Bisa dikatakan, orang-orang Yahudi-lah yang menjadi pelopor dalam membuat pelesetan-pelesetan yang isinya menghina Allah, Rasul-Nya dan Islam. Sikap mereka ini telah disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انظُرْنَا وَاسْمَعُوا وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (Muhammad): “Raa’ina”, tetapi katakanlah: “Unzhurna”, dan “dengarlah”.Dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih.”(QS. Al-Baqarah [2]:104).

Raa’ina, artinya sudilah kiranya kamu memperhatikan kami. Dikala para sahabat menggunakan kata-kata ini kepada Rasulullah saw, orang-orang Yahudi pun memakainya pula, akan tetapi mereka pelesetkan. Mereka katakan ru’unah, artinya ketololan yang amat sangat. Ini sebagai ejekan terhadap Rasulullah saw. Oleh karena itulah, Allâh swt menyuruh para sahabat agar menukar perkataan raa’ina dengan unzhurna, yang juga sama artinya dengan raa’ina.

Yahudi juga memelesetkan ucapan salam menjadi as-sâmu ‘alaikum, yang artinya (semoga kematianlah atas kamu). Mereka tujukan ucapan itu kepada Rasulullah saw.

Sebelumnya, hal sama sebenarnya telah mereka lakukan terhadap Nabi Musa as. Allah menceritakannya dalam kitab-Nya.

وَإِذْ قُلْنَا ادْخُلُوا هَذِهِ الْقَرْيَةَ فَكُلُوامِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ رَغَدًا وَادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا وَقُولُوا حِطَّةٌ نَّغْفِرْ لَكُمْ خَطَايَاكُمْ وَسَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ . فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا قَوْلاً غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ فَأَنزَلْنَا عَلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا رِجْزًا مِّنَ السَّمَآءِ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ

“Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman: “Masuklah kamu ke negeri ini (Baitul Maqdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak dimana yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya dengan bersujud, dan katakanlah: “Bebaskanlah kami dari dosa”, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu. Dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik. Lalu orang-orang yang mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka.Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang zhalim itu siksaan dari langit, karena mereka berbuat fasik.”(QS. Al Baqarah [2]:58-59).

Mereka disuruh mengucapkan hiththah, yang artinya bebaskanlah kami dari dosa.Namun mereka pelesetkan menjadi hinthah, yang artinya beri kami gandum.

Memang, urusan peleset-memelesetan ini orang Yahudi merupakan biangnya.Celakanya, sikap seperti inilah yang ditiru oleh sebagian orang jahil.Mereka menjadikan agama sebagai bahan pelesetan.Seperti yang dilakukan oleh para pelawak yang memelesetkan ayat-ayat Allah dan syi’ar-syi’ar agama.

Sebagai contoh, memelesetkan firman Allah yang berbunyi “laa taqrabuuzzina” kemudian diartikan “jangan berzina di hari Rabu!” Bahkan sebagian oknum itu, ada yang berani memelesetkan arti sabda Rasulullah saw : ash-shalaatu ‘imaaduddiin, dengan pelesetan: “shalat itu kewajiban seorang modin (kaur kesra)”sebagai bentuk guyonan dan lawakan.

Demikian pula, kita sering mendengar dari sebagian orang yang memelesetkan lafadz azan. Sebagai contoh ucapan “hayya ‘alal falaah”, mereka pelesetkan menjadi “hayalan saja”. Dan masih banyak lagi bentuk-bentuk pelesetan, yang hakikatnya adalah pelecehan dan istihzâ’ terhadap syi’ar-syi’ar agama. Hendaklah orang-orang yang melakukannya segera bertaubat dengan taubatan nasuha. Dan bagi para orang tua, hendaklah mencegah dan melarang anak-anaknya melakukan hal yang demikian.Apabila mendengar anak-anak mereka melatahi pelesetan-pelesetan bernada pelecehan tersebut. Hendaklah mereka ketahui, bahwa perbuatan seperti itu merupakan perbuatan Yahudi.

Dalam bentuk ejekan dan sindiran terhadap syi’ar-syi’ar agama dan orang-orang yang mengamalkannya. Seringkali kita mendengar sebagian orang tak bermoral mengejek wanita-wanita muslimah yang mengenakan busana Islami dengan bercadar dan warna hitam-hitam dengan ejekan “ninja! ninja!”Atau seorang muslim yang taat memelihara jenggotnya dengan ejekan “kambing!”

Atau seorang muslim yang berpakaian menurut Sunnah tanpa isbal (tanpa menjulurkannya melebihi mata kaki) dengan ejekan : “pakaian kebanjiran”. Sering kita dapati di kantor-kantor, para pegawai yang taat menjalankan syi’ar agama ini diejek oleh rekan kerjanya yang jahil alias tolol. Sekarang ini kaum muslimin yang taat menjaga identitas keislamannya, seringkali dicap dan diejek dengan sebutan teroris, wanted dan lain sebagainya. Yang sangat memprihatinkan adalah para pelaku pelecehan dan pengejekan itu adalah dari kalangan kaum muslimin sendiri.

Dalam bentuk sindiran terhadap Islam dan hukum-hukumnya. Seperti orang yang mengejek hukum hudud dalam Islam, semisal potong tangan dan rajam dengan sebutan hukum barbar. Menyebut Islam sebagai agama kolot dan terbelakang. Menyebut syariat thalaq (cerai) dan ta’addud zaujât (poligami) sebagai kezhaliman terhadap kaum wanita. Atau ucapan bahwa Islam tidak cocok diterapkan pada zaman modern. Dan ucapan-ucapan sejenisnya dalam bentuk perbuatan dan bahasa tubuh atau gambar, seperti isyarat, istihzâ’ dalam bentuk karikatur dan sejenisnya.

Termasuk memperolok–olok simbol–simbol agama adalah mencela dan menjelek–jelekkan ulama, kiai, dai atau ustadz yang mendakwahkan tauhid dan sunnah, karena bisa menghalangi manusia untuk mengkaji Islam dalam rangka mencari petunjuk. Sebagaimana disampaikan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin ketika ditanya tentang sekelompok orang yang mencela seorang ulama dihadapan orang lain.

“Menurut saya ini adalah perbuatan yang diharamkan. Apabila seseorang tidak diperbolehkan menggunjing saudaranya seiman meskipun bukan orang alim, lalu bagaimana bisa diperbolehkan untuk meng-ghibah saudaranya dari para ulama? Seharusnya setiap manusia mukmin harus menahan lisannya dari menggunjing saudaranya kaum mukminin, sebagaimana firman Allah swt dalam QS. Al Hujurat [49]: 12.

Bisa jadi dia menjadi sebab tertolaknya kebenaran yang dibawa oleh ulama ini, sehingga segala dosa dan akibat dari penolakan kebenaran tadi ia pikul. Karena menilai cacat seorang alim pada kenyataannya bukanlah pencelaan terhadap pribadinya, melainkan pencelaan terhadap warisan Nabi Muhammad saw karena para ulama (ahlussunnah) adalah pewaris para nabi. Apabila para ulama dicela dan dinilai cacat maka masyarakat tidak akan percaya kepada ilmu yang ada pada mereka, yang ilmu itu diwarisi dari Rasulullah saw. Ketika itu mereka tidak percaya kepada syari’at yang dibawa oleh orang alim ini.

Saya tidak mengatakan bahwa alim itu ma’sum (suci dari salah), karena setiap orang berpotensi untuk salah. Jika engkau melihat sebuah kesalahan pada diri seorang ulama menurut keyakinanmu, maka hubungilah dia dan carilah pemahaman bersamanya. Maka jika telah jelas bagimu bahwa kebenaran bersamanya, maka wajib atasmu untuk mengikutinya, dan jika belum jelas kebenarannya bagimu, akan tetapi engkau menemukan pada perkataannya ada keluasan, maka kamu wajib menahan diri darinya. Akan tetapi jika ucapannya benar-benar salah menurutmu maka peringatkan masyarakat dari ucapannya yang salah, karena mendiamkan yang salah tidak boleh, tetapi jangan engkau cela dia karena ia adalah orang alim yang telah dikenal dengan kebaikan niatnya.

Seandainya kita mencacat seorang ulama yang terkenal dengan ketulusan niatnya karena sebuah kesalahan dalam masalah fiqih yang mereka terjerumus di dalamnya maka tentunya kita telah menilai cacatnya ulama-ulama besar. Akan tetapi yang wajib kita lakukan adalah apa yang telah kusebutkan. Jika engkau melihat seorang alim yang berbuat satu kesalahan, maka berdialoglah dan berbicaralah dengannya.Jika menjadi jelas bagimu bahwa kebenaran bersamanya, maka ikutilah dia, atau kebenaran ternyata bersamamu maka dia mengikutimu, atau perkara tersebut tidak menjadi jelas hingga ada khilaf di antara kalian berdua berupa khilaf yang lapang. Maka pada saat demikian wajib atas kamu untuk menahan diri, dan hendaknyalah dia berkata apa yang dia katakan dan engkau berkata apa yang engkau katakan. Dan alhamdulillah, perselisihan tidak hanya ada pada masa sekarang saja, namun perselisihan telah terjadi sejak zaman para sahabat hingga saat kita sekarang ini.”

Demikianlah, tulisan ini merupakan peringatan dan nasihat kepada segenap kaum muslimin dari perbuatan dosa besar yang dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam. Berapa banyak kita dapati bentuk-bentuk penghinaan terhadap syi’ar-syi’ar agama, pelesetan-pelesetan yang berisi sindiran terhadap agama, karikatur-karikatur lelucon yang berisi ejekan dan lain sebagainya.Khususnya banyak kita dapati anak-anak kaum muslimin melatahi bentuk-bentuk istihzâ’ ini. Anehnya, para orang tua diam saja melihatnya tanpa memperingatkan atau memberi hukuman terhadap anak-anak mereka.Sehingga istihzâ’ ini menjadi hal yang biasa di kalangan kaum muslimin, padahal termasuk dosa besar.Semoga kita dilindungi oleh Allah swt dari perbuatan tercela ini.Aamiiin.

Wallaahu a’lam bish-showaab.

(Majmu’ah Rasâil fit Tauhid lisy Syaikh Shalih bin Fauzân al-Fauzân, Al-Burhan fi Masâ’ilil Iman lisy Syaikh Abdul Wahid Hasyim, Tafsir al-Qur’an al-‘Adhim li Ibni Katsîr,Kitâbul Ilmi, Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, hal 220, dan Ta’awwun al-Du’at wa Atsaruhu Fil Mujtama’, Darul Wathan:35-37. Tafsir al-Qur an lisy Syaikh Muhammad bin Nashir as-Sa’diy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *