Melawan Imperialisme Modern

Kemerdekaan adalah cita-cita perjuangan bangsa, dan kini 70 tahun sudah Bangsa Indonesia meraih kemerdekaan. Tetapi ada pertanyaan yang selalu menggelitik kita, sudahkah kita benar-benar merdeka? Terus terang sulit untuk menjawabnya. Karena di usianya yang ke-70 ini mestinya Indonesia semakin matang; matang dalam politik, pendidikan, pertahanan dan ekonomi. Namun pada kenyataannya, bangsa ini masih terseok-seok dalam kancah perpolitikan, mandul dalam urusan pertahanan dan terbelakang dalam bidang pendidikan dan ekonomi. Bukannya kita tidak menghargai para pemimpin bangsa kita, namun kita salut atas upaya Malaysia dalam membangun izzah negara dengan menolak bantuan pinjaman IMF yang syarat dengan muatan politis dan ekonomi. Sehingga pasca krisis ekonomi 1998 Malaysia bisa cepat bangkit dari keterpurukannya. Kita angkat topi untuk negara Turki dimana dalam sepuluh tahun terakhir berhasil melakukan lompatan dalam berbagai bidang, dalam bidang ekonomi bisa menaikkan Produk Domestik Nasional hingga mencapai 100 M dolar Amerika menyamai pendapatan gabungan 3 negara dengan ekonomi terkuat di Timur Tengah.
Turki juga bisa menaikkan pendapatan perkapita yang dahulunya 3500 dolar pertahun, meningkat pada tahun 2013 menjadi 11.000 dollar pertahun. Turki berhasil melunasi semua hutang-hutangnya bahkan mampu meminjami IMF 5 Milyar dolar. Bandingkan dengan hutang Indonesia yang mencapai 3.300 Trilyun menempati urutan ke-5 di dunia. Dalam bidang pendidikan,Turki berhasil mendirikan 125 universitas baru, 189 sekolah baru, 510 rumah sakit baru dan 169.000 kelas baru, 35.000 laboratorium, dan membiayai 300.000 ilmuwan melakukan penelitian ilmiah menuju tahun 2023.
Bagaimana dengan Indonesia? Yang kita lihat adalah potret buram Indonesia. Bukannya kebangkitan tapi justru keterpurukan hingga titik nadhir. Ya, ibarat jatuh tertimpa tangga, bahkan diinjak-injak pula.
Kita sadar bahwa dibandingkan dengan negara-negara lain potensi SDA Indonesia jauh lebih unggul. Kita juga tahu bahwa muslim Indonesia adalah penduduk mayoritas di dunia. Kita juga mengerti bahwa orang yang pintar dan punya skill di Indonesia bukanlah sedikit tapi ribuan jumlahnya. Tapi mengapa kita menjadi negara yang menempati urutan ke-5 negara yang paling besar hutangnya; menempati kelompok negara yang terbanyak penduduk miskinnya dan bila memakai standart Bank Dunia maka jumlahnya 100juta lebih? Inilah bukti bahwa kita belum benar-benar merdeka dan kita belum menjadi tuan di rumah sendiri. 
PENJAJAH ITU BERTOPENG KAPITALISMETahukah anda bahwa penjajah itu bertopeng kapitalisme? Ya, kapitalisme telah nyata merobek kedaulatan bangsa dan inilah rupanya gaya imperialisme modern. Sistem ekonomi kapitalisme telah mengajarkan bahwa pertumbuhan ekonomi hanya akan terwujud jika semua pelaku ekonomi terfokus pada akumulasi kapital (modal ).
Bagaimana cara kapitalisme menguasai negara? Marilah kita lihat tahapan-tahapannya Pertama, mereka menciptakan mesin “Penyedot Uang” yang dikenal dengan lembaga perbankan. Melalui lembaga ini semua sirkulasi keuangan difokuskan pada lembaga ini, mulai dari usaha mikro sampai perusahaan multi nasional bahkan sisa-sisa uang di sektor rumah tangga yang tidak digunakan akan disedot semua. Lalu siapakah yang akan bisa mengakses dana di bank yang sudah terkumpul tersebut. Tentu bagi mereka yang bankable yaitu mereka yang mampu memenuhi ketentuan pinjaman baik dari fix return dan collateral (agunan). Konsekuensinya, hanya pengusaha besar dan sehatlah yang akan bisa mengakses dana dari bank tersebut, mereka itu tidak lain adalah para kapitalis yang sudah mempunyai perusahaan besar untuk menjadi lebih besar lagi.
Naifnya, banyak bank-bank di Indonesia yang dikuasai oleh asing kurang lebih 47% dari total bank di Indonesia maka semakin klop lah. Sedangkan di sektor kredit mikro tanpa agunan semakin diperketat lihat KUR ( Kredit Usaha Rakyat ) yang semakin dibatasi. Lembaga mikro penyalur dana bergulir pun semakin kesulitan mengakses dana tersebut dengan birokrasi dan persyaratan yang sangat rumit. Sementara perbankan syariah di Indonesia belum mendapatkan kebijakan yang menggembirakan dalam upaya mengejar ketertinggalannya dengan bank konvensional. Walaupun sedikit melegakan kita, bahwa untuk urusan haji sekarang pemerintah sudah mewajibkan memakai bank syariah, namun hal itu masih jauh panggang daripada api, mestinya masih banyak kebijakan pemerintah yang bisa mendorong serta mendongkrak pertumbuhan bank syariah di Indonesia.
Kedua, dengan mendirikan Pasar Modal, dengan mencetak kertas-kertas saham untuk dijual kepada masyarakat dengan iming-iming akan diberi deviden. Tahukah anda bahwa perusahaan yang bisa listing di pasar modal adalah hanya perusahaan-perusahaan besar, karena persyaratan untuk menjadi emiten dan penilaian investor sangat ketat sekali sehingga bagi perusahaan kecil tidak akan bisa memenuhinya. Ya lagi-lagi perusahaan besar saja yang bisa menjual sahamnya di pasar modal sehingga modal pun menggelontor di pundi-pundi keuangannya.
Ketiga, Memakan perusahaan kecil. Bagaimana caranya? Menurut teori Karl Max, dalam pasar persaingan bebas ada hukum akumulasi kapital ( the law of capital accumulations ), yaitu perusahaan besar akan memakan perusahaan kecil. Contohnya, jika di suatu wilayah banyak terdapat toko kelontong yang kecil, maka cukup dibangun sebuah mall yang besar atau supermarket. Dengan itu toko-toko kecil akan tutup dengan sendirinya.
Keempat, Penguasaan sumber-sumber bahan baku. Dengan cara ini perusahaan-perusahaan besar akan dapat memenangkan persaingan pasar karena kita tahu persaingan pasar hanya dapat dimenangkan oleh mereka yang dapat menjual produk-produknya dengan harga murah. Nah, untuk bisa menjual dengan harga murah mereka harus mendapatkan bahan baku yang murah pula sehingga biaya produksi menjadi kecil. Dengan bantuan dua lembaga yaitu perbankan dan pasar modal mereka bisa memenangkannya dan menguasai sumber-sumber bahan baku seperti pertambangan, bahan mineral, kehutanan, minyak bumi, gas, batubara, air dan sebagainya.
Kelima, Mencaplok perusahaan milik negara ( BUMN ). Kita tahu bahwa perusahaan negara pada umumnya menguasai sektor-sektor publik yang sangat strategis, seperti : sektor telekomunikasi, transportasi, pelabuhan, keuangan, kesehatan, pertambangan, kehutanan, energi dan sebagainya. Bisnis di sektor strategis adalah bisnis yang menjanjikan karena resiko kecil dan untung besar. Bagaimana caranya? Yaitu dengan mendorong munculnya undang-undang privatisasi BUMN. Dengan adanya jaminan UU ini, perusahaan kapitalis akan dapat leluasa mencaplok satu persatu BUMN tersebut dan tentu lagi-lagi hal ini didukung oleh dua lembaga keuangan tersebut yaitu perbankan dan pasar modal.
Bila hal ini dirasa sulit maka mereka akan masuk di sektor kekuasaan itu sendiri, kaum kapitalis harus menjadi penguasa sekaligus tetap menjadi pengusaha. Untuk menjadi penguasa tentu membutuhkan modal yang besar, karena biaya kampanye itu tidak murah. Tapi bagi kaum kapitalis tidak masalah sebab permodalannya tetap akan didukung oleh dua lembaga sebelumnya, yaitu perbankan dan pasar modal. Nah, jika kaum kapitalis sudah melewati cara-cara ini, maka hegemoni (pengaruh) ekonomi ditingkat nasional hampir sepenuhnya terwujud. Hampir tidak ada problem yang berarti untuk dapat mengalahkan kekuatan hegemoni ini.
MEMATAHKAN ULAR KAPITALISMEKapitalisme ibarat ular : ganas, berbisa, liar, mematikan dan buas kalau menyantap makanan. Makanan akan ditelan habis-habis. Maka untuk melawannya butuh tenaga yang lebih. Tidak bisa dengan kekuatan yang pas-pasan. Jangan pernah memberikan kesempatan ular untuk makan. Kita harus pintar menghindar dan memperkuat diri kita. Sehingga kebal dan tahan terhadap keganasan dan bisanya yang mematikan.
Para pendahulu kita sebenarnya telah mengajarkan kepada kita resep yang jitu menghadapi arus deras kapitalisme ini yaitu kemandirian. Kemandirian berarti tidak bergantung pada pihak lain, istilah Bung Karno Berdikari ( Berdiri diatas kaki sendiri ). Ya, kita harus bersatu padu mengencangkan ikat pinggang, yaitu berani menahan gempuran gelombang hedonism. Mengambil sikap untuk mengkonsumsi produk buatan sendiri, mempersiapkan semaksimal mungkin ilmu, technologi, pertahanan, ekonomi dan sebagainya sehingga kita menjadi negara yang kuat yang tidak bergantung pada pihak lain yang akhirnya menjadi negara yang disegani oleh dunia. Berapa banyak negara yang dulunya diembargo tapi justru ia semakin bangkit dan maju.
Kita yakin bahwa sehebat-hebatnya sistem kapitalis sebenarnya sangat rapuh karena ia bukan berasal dari wahyu Allâh. Dengan menerapkan sistem ekonomi Islam, sejatinya adalah upaya membendung kebrutalan kapitalisme.Di Indonesia mestinya sangat mudah mematahkan kapitalisme ini. Dengan dukungan penduduk mayoritas muslim, SDA yang melimpah ruah dan pemimpin yang kuat, yang berkomitmen terhadap penegakan nilai-nilai syariah. Karena sesungguhnya Allâh tidak akan pernah mengingkari janjinya, jika penduduk suatu negeri beriman dan bertaqwa maka akan dibukakan keberkahan dari langit dan bumi akan tetapi bila berdusta (mencampakkan syariat) maka Allâh akan mengambil keberkahan dari apa yang mereka kerjakan. (QS Al-A’râf [7]: 96).
Maka pada akhirnya, esensi kemerdekaan harus kita maknai kembali dalam konteks menjaga kedaulatan negara, mengamankan hak milik nasional, serta menjaga kepribadian suatu bangsa. Selain itu memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan amanat proklamasi yang harus tetap digemakan. Semoga Allâh senantiasa memberkati kemerdekaan Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *