KRISIS ULAMA ; PELUANG LIBERALISASI (1)

Pada masa-masa sekarang ini mungkin sudah mulai terasa bagaimana nilai-nilai syariat Islam begitu sangat jarang terlaksanakan oleh umat Islam. Memang secara kuantitas umat Islam di Indonesia masih menjadi mayoritas, namun secara kualitas umat Islam masih sangat jauh dari yang dibawa oleh Rasûlullâh dari ajaran Qur’an dan Sunnah. Hal ini tentu berawal dari mulai jarangnya para umat Islam yang tafaqquh fiddiin (mendalami syariat agama), dan justru lebih banyak yang mengejar ilmu keduniaan demi meraih bahagia sesaat di dunia. Jika pun ada beberapa yang berkemauan tafaaquh fiddiin, namun sayangnya banyak dari mereka yang tidak disambut umat manusia dengan suka cita. Bahkan seakan-akan jerih payah mereka dalam menuntut ilmu syar’i yang tidak mudah diperoleh justru terbalas dengan kurang dihargainya mereka, dan peran mereka pun cenderung termarjinalkan atau terbatasi.

Kondisi yang lebih parah lagi adalah mereka dijadikan objek istihza’ (ejek-ejekan), istishghor (diremehkan), dan bahkan guyonan di belakang. Padahal mata rantai keilmuan wahyu dari Rasûlullâh tidak akan bisa diperoleh kecuali melalui perantara mereka. Tentu tidak menutup kemungkinan hal tersebut akan melahirkan sikap apatis terhadap ulama, dan pada akhirnya timbullah krisis keulamaan yang mengancam eksistensi keutuhan dan kemurnian ajaran risalah kenabian yang dilanjutkan penyampaiannya oleh para ulama’. Dan pada tataran ini tentu sangat menguntungkan pihak liberal-sekuler antek yahudi yang tidak henti-hentinya menggembosi dakwah Islamiyah, khususnya terkait aqidah shohihah sesuai Qur’an dan Sunnah. Krisis keulamaan tersebut harus diantisipasi oleh segenap umat Islam demi menutup peluang liberalisasi secara besar-besaran. Maka dalam tulisan ini berusaha mengupas urgensi dan peran ulama, serta dampak yang timbul dari krisis keulamaan.

Pentingnya Ulama

Abu Muslim Al-Khaulani rahimahullâh mengatakan: “Ulama di muka bumi ini bagaikan bintang-bintang di langit. Apabila muncul, manusia akan diterangi jalannya dan bila gelap manusia akan mengalami kebingungan.” (Tadzkiratus Sami’, hal 34)

Allâh mengutus para Rasûl dengan tujuan untuk menjelaskan syari’at kepada umat manusia, sehingga mereka memperoleh petunjuk dalam meniti perjalanan hidup di dunia ini. Namun sejak diutusnya Muhammad menjadi Nabi dan Rasûl, pintu kenabian pun sudah ditutup oleh Allâh. Sedangkan manusia masih selalu membutuhkan bimbingan, tuntunan, dan petunjuk dalam menjalani kehidupan di dunia. Sehingga Rasûlullâh pun suatu saat mengumpulkan para sahabat-sahabatnya untuk memberikan wejangan. Dan saking pentingnya apa yang akan disampaikan oleh Rasûlullâh, maka mereka menganggap seakan-akan pidato/khutbah ini adalah khutbah terakhir atau khutbah pamitan Rasûlullâh:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَمْرٍو السُّلَمِيِّ، أَنَّهُ سَمِعَ الْعِرْبَاضَ بْنَ سَارِيَةَ، يَقُولُ: وَعَظَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَوْعِظَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ، وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ، فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ هَذِهِ لَمَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ، فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا؟ قَالَ: «قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا، لَا يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلَّا هَالِكٌ، مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِمَا عَرَفْتُمْ مِنْ سُنَّتِي، وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَعَلَيْكُمْ بِالطَّاعَةِ، وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا، فَإِنَّمَا الْمُؤْمِنُ كَالْجَمَلِ الْأَنِفِ، حَيْثُمَا قِيدَ انْقَادَ»

Dari Abdurrahman bin ‘Amru As Sulami bahwasanya ia mendengar ‘Irbadl bin Sariyah berkata; Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam memberi kami satu nasehat yang membuat air mata mengalir dan hati menjadi gemetar. Maka kami berkata kepada beliau; “Ya Rasûlullâh, sesungguhnya ini merupakan nasihat perpisahan, lalu apa yang engkau wasiatkan kepada kami?” Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku telah tinggalkan untuk kalian petunjuk yang terang, malamnya seperti siang. Tidak ada yang berpaling darinya setelahku melainkan ia akan binasa. Barangsiapa di antara kalian hidup, maka ia akan melihat banyaknya perselisihan. Maka kalian wajib berpegang teguh dengan apa yang kalian ketahui dari sunnahku, dan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi geraham. Hendaklah kalian taat meski kepada seorang budak Habasyi. Orang mukmin itu seperti seekor unta jinak, di mana saja dia diikat dia akan menurutinya.”

Wasiat Rasûlullâh diatas cukup terkenal di kalangan para ulama, namun masih terlalu asing bagi mayortitas umat Islam, sehingga membuat mereka mudah terombang-ambing oleh bisikan dan godaan dari syaithon laknatullâh ‘alaih. Padahal hadits diatas mengandung bekal bagi seorang muslim dalam menjalani kehidupan di sini, yaitu agar senantiasa memegang teguh al-Qur’an dan al-Sunnah dengan sekuat-kuatnya. Sebab keduanya adalah sumber kebahagiaan dan ketenangan dalam hidup. Dan dalam memahami al-Qur’an dan Sunnah tersebut, tentu kita membutuhkan bimbingan dan arahan dari para ulama yang disebut-sebut sebagai penerus dan penyambung estafet penyampaian petunjuk (hidayah) bagi umat manusia.

Seiring ditutupnya risalah kenabian dengan Nabi Muhammad, maka ulama disebut oleh Rasûlullâh sebagai penerus mata rantai keilmuan dalam wahyu Qur’an maupun hadits sebagai sumber petunjuk dalam menempuh kehidupan. Sebagaimana hal itu dapat terpahami secara jelas dalam hadits yang cukup populer:

إن الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْلأَنْبِياَءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْناَرًا وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (Hadits ini diriwayatkan Al-Imam At-Tirmidzi di dalam Sunan beliau no. 2681, Ahmad di dalam Musnad-nya (5/169), Ad-Darimi di dalam Sunan-nya (1/98), Abu Dawud no. 3641, Ibnu Majah di dalam Muqaddimahnya dan dishahihkan oleh Al-Hakim dan Ibnu Hibban. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah mengatakan: “Haditsnya shahih.” Lihat kitab Shahih Sunan Abu Dawud no. 3096, Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 2159, Shahih Sunan Ibnu Majah no. 182, dan Shahih At-Targhib, 1/33/68)

Disinilah peran para ulama terasa sangat dibutuhkan. Allâh menjadikan para ulama sebagai pewaris perbendaharaan ilmu agama. Sehingga, ilmu syariat terus terpelihara kemurniannya sebagaimana awalnya. Oleh karena itu, kematian salah seorang dari mereka mengakibatkan terbukanya fitnah besar bagi muslimin. Sebagaimana Rasûlullâh Shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah mengisyaratkan hal ini dalam sabdanya yang diriwayatkan Abdullah bin ‘Amr ibnul ‘Ash : Aku mendengar Rasûlullâh Shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعاً يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِباَدِ، وَلَكِنْ بِقَبْضِ الْعُلَماَءِ. حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عاَلِماً اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوْساً جُهَّالاً فَسُأِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allâh tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allâh tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Al-Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673)

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullâh mengatakan: Asy-Sya’bi berkata: “Tidak akan terjadi hari kiamat sampai ilmu menjadi satu bentuk kejahilan dan kejahilan itu merupakan suatu ilmu. Ini semua termasuk dari terbaliknya gambaran kebenaran (kenyataan) di akhir zaman dan terbaliknya semua urusan.”

Wajib Memuliakan Ulama

Di dalam Shahih Al-Hakim diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr secara marfu’ (riwayatnya sampai kepada Rasûlullâh): “Sesungguhnya termasuk tanda-tanda datangnya hari kiamat adalah direndahkannya para ulama dan diangkatnya orang jahat.” (Lihat kitab : Jami’ul Ulum wal Hikam, karya Ibnu Rojal al-Hanbali. hal. 60)

قال الإمام الحافظ ابن عساكر : “اعلم وفقني الله وإياك لمرضاته، وجعلنا ممن يتقيه حق تقاته، أن لحوم العلماء مسمومة، وعادة الله في هتك أستار منتقصيهم معلومة، وأن من أطلق عليهم لسانه بالثلب، ابتلاه الله قبل موته بموت القلب”

Artinya : “Ketahuilah wahai saudaraku, semoga Allâh senantiasa membimbing kita kepada keridlaan-Nya, dan menjadikan kita semua sebagai orang yang benar-benar bertaqwa kepada-Nya. Sesungguhnya daging (penggunjing) para ulama itu beracun, dan kebiasaan Allâh dalam menyingkap kedok para pencela mereka (ulama) telah diketahui bersama. Dan barang siapa yang lisannya secara mudah menghina dan merendahkan para ulama , maka Allâh akan memberinya hukuman dengan dimatikan hatinya.

Asy-Syaikh Shalih Fauzan mengatakan: “Kita wajib memuliakan ulama muslimin karena mereka adalah pewaris para nabi, maka meremehkan mereka termasuk meremehkan kedudukan dan warisan yang mereka ambil dari Rasûlullâh serta meremehkan ilmu yang mereka bawa. Barangsiapa terjatuh dalam perbuatan ini tentu mereka akan lebih meremehkan kaum muslimin. Ulama adalah orang yang wajib kita hormati karena kedudukan mereka di tengah-tengah umat, dan tugas yang mereka emban untuk kemaslahatan Islam dan muslimin. Kalau mereka tidak mempercayai ulama, lalu kepada siapa mereka percaya. Kalau kepercayaan telah menghilang dari ulama, lalu kepada siapa kaum muslimin mengembalikan semua problem hidup mereka dan untuk menjelaskan hukum-hukum syariat, maka di saat itulah akan terjadi kebimbangan dan terjadinya huru-hara.” (Lihat kitab : Al-Ajwibah Al-Mufidah, hal. 140)

Ubadah bin Shamit Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, bahwa Rasûlullâh Shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ليس مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

“Bukan termasuk ummatku, siapa yang tidak memuliakan orang yang lebih tua, menyayangi orang yang lebih muda dan tidak mengetahui hak-hak orang alim”.
Imam al-Thawus rahimahullâh mengatakan: “Termasuk Sunnah, adalah menghormati orang alim.”

Pandangan Liberal (Antek Yahudi) terhadap Ulama

Musuh-musuh Islam, diantaranya orang-orang Yahudi dan Nasrani serta orang-orang munafik (liberal-sekuler) yang mengikuti mereka, senantiasa berusaha menjelek-jelekkan citra ulama Islam, berusaha meruntuhkan kepercayaan umat kepada para ulama dengan sindiran-sindiran dan komentar-komentar negatif tentang ulama. Hal ini perlu diwaspadai oleh kaum muslimin. Mereka jangan sampai ikut-ikutan menjelek-jelekkan alim ulama.

Dalam Protokolat Yahudi, pada protokolat nomor 27 disebutkan sebagai berikut: “Kami telah berusaha sekuat tenaga untuk menjatuhkan martabat tokoh-tokoh agama dari kalangan orang-orang non Yahudi dalam pandangan manusia. Oleh karena itu, kami berhasil merusak agama mereka yang bisa menjadi ganjalan bagi perjalanan kami. Sesungguhnya pengaruh tokoh-tokoh agama terhadap manusia mulai melemah hari demi hari”.

Terlebih para kelompok sekuler-liberal di Indonesia, tidak henti-hentinya mereka menggembosi peran ulama, serta mengkampanyekan agar tidak mengindahkan fatwa/nasihat para ulama. Hal itu dilakukan tentu dengan tujuan utama memuluskan langkah mereka dalam upaya liberalisasi dan sekularisasi terhadap seluruh tatanan nilai masyarakat muslim. Dan akhirnya umat Islam jauh dari para ulama, yang kemudian membuat mereka semakin jauh dari nilai-nilai syariat dalam Islam. Siapapun umat Islam yang ikut serta menempuh sikap orang liberal-sekuler ini maka dia berarti telah mendukung langkah musuh Allâh dalam menggembosi keberlanjutan dakwah Islamiyah. Na’uudzu billah min dzaalik.

Sungguh, melihat keadaan umat ini sekarang, benar-benar membuat hati pilu dan dada sesak. Kebodohan demikian merajalela, para ulama Rabbani semakin langka, dan semakin banyaknya orang bodoh yang berambisi untuk menjadi ulama. Keadaan ini merupakan peluang besar bagi pelaku kesesatan untuk menjerumuskan umat ke dalam kebinasaan.

Dulu, di saat ilmu agama menguasai peradaban manusia dan ulama terbaik umat memandu perjalanan hidup mereka, para pelaku kesesatan dan kebatilan seolah-olah tersembunyi di balik batu yang berada di puncak gunung dalam suasana malam yang gelap gulita. Namun ketika para penjahat agama tersebut melihat peluang, mereka pun dengan sigap memanfaatkan peluang tersebut, turun dari tempat “pertapaan” mereka dan menampilkan diri seakan-akan mereka adalah para “penasihat yang terpercaya.”

Jadi jelaslah, setiap tindakan yang bertujuan mendiskreditkan para ulama dan tokoh agama termasuk tindakan makar terhadap agama ini. Pelakunya sangat pantas untuk dihukum dan ditindak tegas. Ulama adalah orang-orang terpilih yang memiliki kapasitas keilmuan yang luar biasa dalam Islam. Melalui merekalah bagaimana silsilah ilmu keislaman bisa tersambung dari Nabi Shallallâhu alaihi wa sallam, para shahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, hingga kepada kita semua yang hidup pada zaman ini. Mencela mereka adalah hal yang tidak dibolehkan, sebagaimana yang telah diterangkan diatas. Maka sepantasnya bagi setiap muslim untuk menghormati, memuliakan dan mengetahui hak-hak para ulama. Bersambung………………pada edisi selanjutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *