Ironi, Dominasi Riba di Mayoritas Islam

Terusik hati ini, dan dada kian gemuruh, ketika beberapa bulan yang lalu penulis membaca tulisan di media sosial tentang isu larangan jilbab di Bali dan rupanya tidak hanya berhenti di situ, sekelompok orang mengatasnamakan agama tertentu di Bali menuntut perwakilan Bank Indonesia di Bali untuk melakukan moratorium pembukaan bank syariah di wilayah yang mayoritas beragama Hindu dan Budha tersebut. Jilbab dan bank syariah dianggap oleh kelompok tersebut sebagai sesuatu yang bertentangan dengan budaya, agama, dan kepentingan masyarakat di Bali secara keseluruhan, kedua isu ini mengusik kehidupan toleransi keagamaan dan kepentingan ekonomi nasional kita.

Upaya pembenturan antara agama dan negara mestinya tidak perlu dilakukan karena sejarah mencatat tidak ada suatu peradabanpun di dunia ini yang pernah eksis dan jaya tanpa dikaitkan agama. Karena keduanya saling membutuhkan. Negara membutuhkan agama dalam menata kehidupan masyarakatnya, begitu pula sebaliknya agama butuh negara dalam implementasi nilai-nilai dan ajarannya. Dan sejarah membuktikan pada zaman rasulullah kejayaan itu nampak manakala syariah dijadikan sebagai instrument pokok dalam pengaturan ekonomi, sosial dan politik dalam suatu negara.

Sebagian masyarakat seakan masih phobia terhadap kata-kata syariah yang kini dipakai oleh bank-bank yang menggunakan sistem Islam dalam operasionalnya dan hal ini memang diatur dalam undang-undang sebagai pembeda antara bank konvensional dan bank syariah. Syariah dianggap sebagai suatu makhluk yang mengerikan yang akan mengancam pada setiap hidup dan kehidupannya. Ya, inilah hasil dari proses sekulerisasi masyarakat ratusan tahun yang telah tertanam sejak kolonialisme Belanda. Sehingga ketakutan-ketakutan masih sering muncul dan sering menghantuinya.

Sungguh lembaga keuangan syariah hadir secara demokratis tanpa melalui paksaan dan ancaman. Kehadirannya tidak memberikan ancaman sedikitpun terhadap kepentingan nasional justru karena kinerja dan manfaatnya lembaga keuangan syariah semakin tumbuh dan berkembang. Sehingga bank-bank BUMN pun ikut berpartisipasi dalam perbankan syariah. Pihak swasta pun tidak ketinggalan pula ikut membuka bank syariah. Dan di sektor mikro muncul BMT yang tumbuh bag jamur sebagai wujud kesadaran masyarakat grass root dalam upaya merealisasikan nilai-nilai Islam dalam berekonomi.

Kita sadar bahwa bank-bank yang menduduki papan atas perbankan nasional masih diduduki oleh bank-bank konvensional, pada tahun 2014 kemarin Bank Indonesia merilis 10 bank terbesar, di peringkat pertama diduduki oleh Bank Mandiri dengan total asset Rp. 674,74 Trilyun, disusul oleh Bank BRI dengan asset Rp. 621,98 Trilyun, BCA Rp. 512,84 Trilyun, BNI Rp. 388,01 Trilyun, CIMB Niaga Rp. 244,8 Trilyun, Bank Permata Rp. 176,57 Trilyun, Bank Panin Rp. 156,42 Trilyun, Bank Danamon Rp. 154,42 Trilyun, BII Rp. 137,79 Trilyun dan BTN dengan asset Rp 15,62 Trilyun. Inilah realitas bahwa dominasi ekonomi riba masih kuat mencengkeram di negara kita.

Namun harapan itu masih ada, meskipun market share bank syariah masih dibawah 5 % tapi mampu tumbuh dan berkembang sekitar 30 – 40% per tahun lebih tinggi dibanding bank konvensional yang hanya tumbuh sekitar 15 – 20 % pertahun. Adapun dari sisi total asset bank syariah mencapai sekitar 250 Trilyun ( BI, 2014 ). Melihat perkembangan kinerja statistik yang cukup fantastis maka wajar bila mendapatkan apresiasi dan dukungan dari pihak pemerintah demi kepentingan nasional dan masyarakat Indonesia.

Gerakan ekonomi syariah yang dulu pernah digulirkan oleh pemerintah tentu harus kita dukung dan kita dorong agar Indonesia menjadi pusat keuangan syariah di dunia. Tentu hal ini harus di dukung dengan regulasi dan perundang-undangan agar dapat memberikan jaminan dan kepastian hukum bagi para pelakunya. Sehingga sudah tidak relevan lagi melakukan gerakan penolakan kehadiran bank syariah hanya dengan alasan sempit dan Ideologi. Ketika bank syariah menjadi praktek legal dan tidak melanggar konstitusi maka ia tidak menjadi sistem eksklusif yang hanya dapat dinikmati oleh umat Islam, tapi oleh semua warga Indonesia tanpa memandang agamanya.

Syari’ah membawa maslahah
Sungguh Allah menurunkan syari’ah dimuka bumi tujuannya adalah untuk kesejahteraan manusia. Kesejahteraan disini bukan saja dari segi materi, tapi juga dari segi spiritual ( ruhaniyah ). Untuk itu Allah memberikan pedoman hidup agar di dalam menjalankan kehidupan di dunia ini dapat mewujudkan kesejahteraan yang sesungguhnya, lahir dan batin. Salah satu acuan yang sudah menjadi ketetapan adalah bahwa dimana syari’ah dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari termasuk dalam bermuamalah, keuangan syariah akan mendatangkan kesejahteraan, sebagaimana disebutkan dalam kaidah fiqh,”Dimana syari’ah dipraktekkan, akan ada kemaslahatan”.

Salah satu filosofi dasar ajaran Islam yang diberikan Allah dalam kegiatan ekonomi dan bisnis yaitu larangan untuk berbuat curang dan dzalim. “ La tadzlimuuna wala tudzlamuun” ( jangan mendzalimi dan jangan di dzalimi ). Misal, disebutkan dalam Al-Qur’an surat al- Baqarah – 188, ”Janganlah kamu memakan harta diantara kamu dengan cara yang bathil”.

Prinsip dasar ini mempunyai implikasi yang sangat luas dalam bidang ekonomi dan bisnis, termasuk dalam praktek perbankan. Salah satu kritik Islam dalam perbankan konvensional adalah dilanggarnya prinsip al kharaju bi al dhaman ( hasil usaha muncul bersama biaya) dan prinsip al ghunmu bil ghurmi ( profit muncul bersama resiko ). Dan inilah unsur kedzaliman yang dilakukan perbankan konvensional dalam mengambil bunga.

Dalam lembaga keuangan konvensional, seperti pada bunga kredit dan deposito atau tabungan al ghunmu ( untung ) muncul tanpa adanya resiko ( al ghurmi ), hasil usaha ( al kharaj ) muncul tanpa adanya biaya ( dhaman ). Al ghunmu dan al kharaj muncul hanya dengan berjalnnya waktu. Padahal dalam bisnis selalu ada kemungkina untung dan rugi bahkan loss. Disini lembaga keuangan konvensional menuntut mendapatkan untung yang tetap ( fixed ) tetapi menolak untuk menanggung resikonya ( al ghunmu bi al ghurmi ). Ia mengharapkan hasil usaha tapi tidak bersedia menanggung biayanya ( alkharaj bi al dhaman ). Padahal prinsip-prinsip tersebut merupakan prinsip dasar dalam teori keuangan, yakni prinsip bahwa return/ profit selalu beriringan dengan resiko.

Memastikan sesuatu yang diluar wewenang manusia adalah bentuk kedzaliman firman Allah SWT dalam surat Lukman ayat 34 : “ Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana ia akan mati, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Dampak bunga pada sosial budaya
Secara sosial, institusi bunga merusak semangat berkhidmat kepada masyarakat. Orang akan enggan berbuat apapun kecuali yang akan memberi keuntungan bagi diri sendiri. Keperluan seseorang dianggap peluang bagi orang lain untuk meraup keuntungan. Kepentingan orang-orang kaya dianggap bertentangan dengan kepentingan orang-orang miskin. Masyarakat demikian tidak akan me
ncapai solidaritas dan kepentingan bersama untuk menggapai keberhasilan dan kesejahteraan. Cepat atau lambat, masyarakat demikian akan mengalami perpecahan. Karena jelas, bunga akan melahirkan benih kebencian dan permusuhan, merusak moralitas, dan yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin.

Kalau demikian adanya maka sudah saatnyalah kita kembali kepada ajaran yang lurus yakni syari’ah Islam yang akan menghantarkan keadilan yakni keadilan sosial, keadilan ekonomi dan keadilan dalam distribusi harta. Wallahu a’lam bishshowab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *