Hakikat Sabar

A. Makna sabar
Secara bahasa sabar berarti melarang dan menahan. Adapun secara syari’at sabar berarti menahan nafsu dari ketergesaan, menahan lisan dari keluhan, dan menahan anggota badan dari ratapan dan lain-lain. Junaid pernah ditanya tentang sabar, dia menjawab, “Sabar adalah menelan kepahitan tanpa mengerutkan muka.”

Dzun Nuun al-Mishri berkata, “Sabar adalah menjauhi hal-hal yang bertentangan dengan agama, bersikap tenang ketika mengadapi ujian yang berat, menampakkan kecukupan ketika fakir dalam menjalani kehidupan.”

Ada yang berkata, “Sabar adalah tegar menghadapi cobaan dengan prilaku yang baik serta tidak berkeluh kesah.”

Mengadu atau berkeluh-kesah ada dua macam. Pertama, mengadu kepada Allah swt. Hal ini tidak dianggap merusak kesabaran, sebagaimana Nabi Ya’qub pernah mengeluh kepada Allah swt,

“Hanya saja aku adukan kedudukan dan kesedihanku ini hanya kepada Allah swt ” (Yusuf [12]: 86) Kedua, keluhan seseorang yang sedang ditimpa musibah baik dengan perkataan atau dengan perbuatan. Ini yang dimungkinkan bisa merusak kesabaran itu sendiri.

Nafsu adalah kereta kencana bagi sesorang hamba dalam perjalanan menuju surga atau neraka. Sabar adalah tali kekang dari kereta itu sendiri, jika kereta tidak dilengkapi tali kekang tentulah ia akan berjalan tanpa kendali meluncur kemana saja.

Hajaj bin Yusuf bernah berpidato, “Tegurlah nafsu-nafsu itu, sesungguhnya ia selalu cenderung pada setiap keburukan, hanya orang yang mendapat rahmatlah orang yang mampu mengekang dan mengendalikan nafsu, dengan mengendalikan nafsu orang bisa sampai menuju Allah, dengan mengekang nafsu ia bisa terhindar dari perbuatan dosa. Sesungguhnya bersabar dari hal-hal yang diharamkan Allah itu jauh lebih mudah dibandingkan bersabar terhadap siksaan Allah swt.”

Nafsu mempunyai dua kekuatan, kekuatan untuk maju dan kekuatan untuk bertahan. Hakikat sabar adalah mengarahkan kekuatan untuk maju kepada hal-hal yang bermanfaat, seperti melakukan semua amal kebajikan dan mengarahkan kekuatan bertahan untuk menghindari hal-hal yang bisa mendatangkan madharat, seperti melakukan semua perbuatan dosa. B. Pembagian Sabar.

sabar itu ada tiga. Pertama, sabar terhadap perintah Allah. Kedua, sabar terhadap larangan Allah. Ketiga, sabar terhadap taqdir Allah swt, yaitu dengan cara ridho dan ihklas menerima semua taqdir yang diberikan oleh Allah kepadanya. Seorang hamba dalam menjalani kehidupannya hendaknya mampu melaksanakan ketiga macam sabar tersebut, mengerjakan semua perintah Allah, menjahui semua larangannya dan bersabar terhadap takdir yang menimpanya. Dari sisi lain sabar ada dua macam, ikhtiari (dapat diusahakan) dan idhthirori (tidak dapat ditolak). Sabar jenis pertama lebih afdhol dari pada sabar yang kedua. Sabar idhthirori dapat dimiliki oleh semua orang dikarenakan hal tersebut tidak bisa lagi dihindari oleh manusia, berbeda dengan sabar ikhtiari tidak semua orang mampu. Itulah sebabnya kesabaran Nabi Yusuf terhadap godaan Zulaikhah lebih besar nilainya daripada kesabarannya ketika dibuang oleh saudara-saudaranya.

Demikian manusia senantiasa memerlukan kesabaran setiap saat dan dalam berbagai keadaan. Sebab manusia itu hidup diantara perintah yang harus ia kerjakan, larangan yang harus ia jauhi, taqdir yang harus ia terima dan nikmati serta disyukuri. Karena ketiga hal ini pasti akan dilewati oleh setiap manusia, sehingga kesabaran harus senantiasa ada sampai dalam kehidupan sampai ajal tiba.

C. Nilai Kesabaran
Rosullah saw bersabda :

مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللَّهُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا. إِلاَّ أَخْلَفَ اللَّهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا

Tidak ada seorang muslim yang ditimpa satu musibah lalu mengucapkan apa yang diperintahkan Allah, “Innâ lillahi wa innâ ilaihi râji’un. Allahumma’ jurni fî mushîbati wa akhlif li khoiron minha” (sesungguhnya kita ini milik Allah dan kepadanyalah kita akan kembali, ya Allah berikanlah pahala atas musibah ini, dan gantikanlah dengan yang lebih baik darinya), kecuali Allah akan menggantikan dengan yang lebih baik darinya.

يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى مَا لِعَبْدِي الْمُؤْمِنِ عِنْدِي جَزَاءٌ إِذَا قَبَضْتُ صَفِيَّهُ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا ثُمَّ احْتَسَبَهُ إِلاَّ الْجَنَّةُ

Allah berfirman dalam hadis qudsi, tidak ada pahala yang kusediakan bagi seorang hambaku yang beriman, ketika aku ambil kekasihnya dari penduduk dunia lalu ia bersabar dan berharap pahala dari Allah, melainkan Allah akan berikan baginya surga.

لاَ تُصِيبُ الْمُؤْمِنَ شَوْكَةٌ فَمَا فَوْقَهَا إِلاَّ قَصَّ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطِيئَتِهِ
Setiap musibah yang menimpa seorang mukmin pastilah Allah akan menjadikannya sebagai penghapus dosa, sampai-sampai duri yang menusuknya.

لا يزال البلاء بالمؤمن أو المؤمنة في جسده وفي ماله وفي ولده حتى يلقى الله وما عليه من خطيئة
Ujian akan terus datang kepada seorang mukmin atau mukminah, mengenai jasadnya, hartanya dan anaknya hingga ia menghadap Allah SWT tanpa membawa dosa.

Allah swt berfirman :

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ
Dan diantara mereka kami jadikan pemimpin-pemimpin yang menjadikan kami sebagai petunjuk. Yaitu ketika mereka bersabar dan yakin kepada ayat-ayat kami. (as-Sajadah [32]: 24)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *