Fenomena Distorsi Pasar di Bulan Ramadhan

IHTIKAR
Tak terasa, bulan suci Ramadhan telah di depan mata, ada rasa haru dan bahagia bulan yang berkah sebentar lagi menghampiri kita, tentu dengan penuh suka cita kita menyambutnya, umat Islam pun berbahagia karena kerinduan akan kekhusukan ibadah didalamnya. Tiap masjid dan lembaga sibuk mempersiapkannya. Tak ketinggalan pula seluruh stasiun TV ikut meramaikannya, mulai acara kuliah, ceramah, tayangan Islami atau bahkan acara yang khusus dikemas walaupun terkesan hanya sekedar hura-hura.

Ya, Ramadhan memang luar biasa, bulan yang mempunyai magnet tersendiri yang menjadikan semarak disbanding bulan yang lainnya. Kita patut bersyukur karena kita masih diberi umur panjang sehingga kita bisa menemuinya. Mari kita ingat sejenak, Ramadhan yang lalu mungkin kita masih bisa berjamaah di masjid bersama kedua orang tua kita, tapi kini salah satu dari keduanya mungkin sudah tiada, atau barangkali tetangga, teman kita mungkin sudah pula meninggalkan kita. Tentu karunia Allah berupa umur tak boleh terbuang sia-sia, bertekadlah Ramadhan ini adalah yang terbaik untuk kita. Karena kita tidak tahu apakah Ramadhan ini terakhir untuk kita, yang akan meninggalkan kita untuk selamanya.

Bulan Ramadhan adalah bulan tarbiyah, yang akan mendidik kita mengendalikan liarnya hawa nafsu. Bersyukur bahwa dalam satu tahun ada bulan Ramadhan. Bayangkan kalau tidak ada Ramadhan, nafsu kita kayak apa, tentu yang terjadi nafsu akan semakin liar dan membuncah yang berdampak pada kesesatan dan kezhaliman. Ibarat kendaraan, Ramadhan adalah remnya, kendaraan yang tidak ada remnya, ia akan menabrak dan menerjang apapun yang ada di depannya. Begitu juga yang terjadi pada diri kita, kita akan mudah sekali melanggar syariat karena hawa nafsu telah menguasai kita, lantaran pudarnya iman dan taqwa. Sehingga bukan kita yang mengendalikan nafsu tapi justru nafsulah yang akan mengendalikan kita. Kalau demikian sungguh kita berada di dalam kesesatan yang nyata.

Memaknai Ramadhan bukanlah sekadar menggugurkan kewajiban ikut puasa menahan lapar dan dahaga, tapi lebih dari itu umat Islam dituntut agar memaknai lebih dalam apa makna Ramadhan sebenarnya. Taqorrub pada Allah dengan memperbanyak amaliah-amaliah adalah wujud mensungguhi makna Ramadhan. Sungguh Ramadhan itu berkah dan penuh maghfiroh saying kalau berlalu begitu saja tanpa ada atsar / bekas dalam perilaku hidup kita. Karena sejatinya keberhasilan tarbiyah Ramadhan itu bukan di saat kita menjalaninya tapi sejauh mana pengaruh Ramadhan telah merubah sikap kita dari dzulumat kepada nur / cahaya setelah purna menjalaninya.

Dampak Ekonomi Ramadhan
Ramadhan telah menumpahkan sejuta keberkahan, dan tumpahannya mengalir sampai di sector perekonomian. Lihatlah geliat ekonomi di saat Ramadhan, dimana purchasing power ( daya beli ) umat pada bulan ini bertambah tinggi minimal dua kali lipat lebih besar dari bulan-bulan biasanya. Hal ini karena pendapatan yang diterima oleh masyarakat baik itu karyawan swasta maupun pemerintah juga bertambah. Pertambahan itu dimungkinkan dengan adanya Tunjangan Hari Raya ( THR ) yang sudah menjadi kewajiban perusahaan dan instansi serta hak karyawan. Dan berbagai bonus pun seringkali diberikan pada bulan suci ini.

Dampak ekonomi pada bulan Ramadhan biasanya akan menstimulus kenaikan tingkat konsumsi dan belanja masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari kenaikan tingkat belanja masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pada saat berbuka puasa, saat sahur, penyiapan jamuan hari raya, belanja baju baru dan lain sebagainya.

Larangan Ihtikar
Fenomena naiknya belanja masyarakat di bulan Ramadhan, selama tidak bersifat ishraf dan tabdzir atau berlebih-lebihan, merupakan sesuatu yang secara wajar masih bisa diterima. Namun demikian, satu hal yang perlu dicermati adalah factor tekanan terhadap inflasi akibat kenaikan permintaan terhadap barang dan jasa, terutama barang kebutuhan pokok. Sebagaimana yang lazim terjadi selama ini, pada bulan Ramadhan biasanya harga-harga cenderung bergerak naik. Sebagian mengatakan bahwa kenaikan harga ini merupakan hal yang wajar sebagai dampak dari kenaikan permintaan. Ini adalah hukum bisnis alami.

Namun sebagian yang lain berpendapat bahwa penyebab kenaikan harga ini lebih disebabkan oleh tindakan para spekulan, yang berupaya untuk mendapat keuntungan berlipat dari kenaikan harga. Tindakan para spekulan seperti ini dalam perspektif Islam termasuk ke dalam kategori ihtikar (penimbunan). Rasulullah saw bersabda,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم « مَنِ احْتَكَرَ فَهُوَ خَاطِئٌ »
“Barangsiapa menimbun barang ( melakukan ihtikar) maka ia berdosa.”
(HR Muslim).

Hadits ini memberikan sinyal tentang keharaman melakukan praktek ihtikar. Menurut fuqoha Ihtikar adalah penimbunan barang-barang yang akan dijual, yang mana barang tersebut adalah barang yang sedang dibutuhkan oleh masyarakat dari sirkulasi pasar dalam masa tertentu sampai kemudian harga barang tersebut akan semakin mahal. Ketika harga sedang mahal, maka barang tersebut baru dijual.

Ada perbedaan pendapat diantara para ulama mengenai barang apa saja yang termasuk kategori Ihtikar yang dilarang oleh Islam. Menurut Imam Syafi’i dan Imam Hanafi bahwa ihtikar hanya berlaku khusus untuk bahan makanan. Sedangkan menurut Imam Maliki ihtikar berlaku dalam bahan makanan dan pakaian, alasannya bahwa barang tersebut merupakan barang pokok yang dibutuhkan oleh manusia. Dan menurut Abu Yusuf ihtikar itu berlaku untuk semua jenis barang baik berupa makanan ataupun yang lainnya.Yaitu selama aktivitas ihtikar yang dilakukan merugikan manusia.

Dalam beberapa referensi tidak pernah disinggung tentang efek positif dari ihtikar. Yang terjadi justru sebaliknya, Islam melihat ihtikar sebagai kejahatan publik, karena dampak yang dirasakan oleh masyarakat, yaitu adanya keterbatasan sirkulasi barang diantara mereka.

Meski demikian, tentu harus dibedakan antara penimbunan dengan inventory atau persediaan. Orientasi “persediaan” adalah sebagai cadangan stok barang pada kondisi usaha yang normal. Juga untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya excess demand ( kelebihan permintaan ), sehingga harga bisa stabil ketika ada tambahan suplai. Atau sebagai tindakan untuk mencegah jatuhnya harga akibat excess supply ( kelebihan penawaran ), terutama pada saat terjadi panen raya. Berbeda dengan penimbunan yang berorientasi pada maksimisasi profit dengan mengeksploitasi keterdesakan masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam Islam, konsep inventory ini telah dipraktekkan oleh Nabi Yusuf as , ketika beliau memimpin Mesir dalam menghadapi krisis pangan dan krisis ekonomi selama tujuh tahun.

Fenomena ekonomi di bulan Ramadhan sungguh luar biasa, tapi sayang justru yang diuntungkan adalah para pengusaha non muslim. Mereka meraup keuntungan yang melimpah akibat penguasaan di sektor ekonomi yang strategis mulai dari sembako, konveksi, elektronik dan sebagainya semua dikuasai. Mereka dengan mudahnya mengendalikan harga hingga peran pemerintah dibuat tak berdaya bertekuk lutut dihadapannya.

Maka ke depan, seharusnya momentum Ramadhan ini bisa dimanfaatkan oleh para pengusaha muslim untuk meningkatkan volume bisnisnya. Bukan para pengusaha non muslim. Kita yakin, jika para pengusaha muslim ini bisa memanfaatkan momentum yang ada, maka peluang terjadinya ihtikar bisa diminimalisir karena misi bisnis pengusaha muslim bukan sekedar mencari profit semata, melainkan juga membawa misi dakwah dan sosial.

Akhirnya, Ramadhan adalah bulan suci untuk memperbanyak ibadah kita kepada Allah, janganlah kita larut dan terlena dalam kesibukan dunia. Waktu banyak tersita dalam aktivitas ekonomi saja sedangkan urusan ibadah dan amaliyah dicampakkan begitu saja. Kita berdoa semoga kita diberi kekuatan iman dan taqwa selama menjalaninya. Sehingga janji Allah atas keberkahan, dan ampunan bisa kita raih bersama. Marhaban ya Ramadhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *