BERILMU Sebelum BERBISNIS

Dalam aktivitas ekonomi, peran pendidikan dan ilmu sangat ditekankan, lebih-lebih pendidikan dan ilmu yang berbasis karakter. Artinya pendidikan tidak sebatas teori yang menjadikan orang ahli dan mempunyai kompetensi. Tapi lebih dari itu, seseorang mempunyai karakter yang inti. Maka dalam bahasa agama, istilah karakter sejatinya adalah ‘taqwa’. Orang yang bertaqwa ingin mendekatkan diri kepada Allah swt. Orang yang bertaqwa pasti takut kepada Allah swt. Karena takut maka dia tidak akan berbuat kerusakan di muka bumi.

Karakter atau taqwa, itulah yang mengantar pada kenyamanan, ketentraman, keselamatan, dan kebahagiaan. Orang yang berkarakter tidak terjebak pada hal-hal yang dilarang. Di tangan orang yang bertaqwa, uang digunakan untuk hal yang lebih bermanfaat bagi masyarakat. Mustahil digunakan untuk yang negative karena dia percaya bahwa Allah swt pasti murka padanya. Begitu juga dalam melakukan aktivitas ekonomi, orang yang berkarakter memegang teguh prinsip bermuamalah sesuai syari’ah karena ia takut kelak dimaintai pertanggungjawaban di akhirat.

Ilmu sebelum berkata dan berbuat
Ilmu adalah tonggak penegak amal, karena jika kita beramal tanpa ilmu bisa jadi amalan yang kita lakukan adalah maksiyat. Berapa banyak orang yang menyangka dia telah beribadah, tidak tahunya ternyata itu perbuatan syirik dan bid’ah.

Prinsip inilah yang harus dipahami betul-betul oleh setiap muslim. Seseorang hendaklah berilmu dulu sebelum beramal agar tak salah jalan. Bukankah, banyak yang beribadah tanpa ilmu, lalu amalan menjadi tertolak dan sia-sia. Karenanya, para ulama sangat hati-hati dan memegang teguh prinsip ini. Ulama’ hadits terkemuka, Imam al-Bukhori telah mencontohkannya. Di awal kitab shohih bukhori, beliau membawakan bab ‘Al ‘ilmu qoblal qouli wal ‘amali ( Ilmu itu sebelum berkata dan berbuat), setelah itu beliau mengemukakan firman Allah swt :

“Maka ketahuilah bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu.”
( QS. Muhammad [47]: 19 ).

Ingin menuai kebaikan, pelajarilah prinsip muamalah
Rasulullah saw bersabda :

“ Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama” (HR. Bukhari Muslim)

Artinya jika kita ingin diberi kebaikan belajarlah ilmu agama, mengapa belajar agama? Karena ilmu agama adalah pokok dalam menjalankan tugas manusia sebagai hamba Allah swt di muka bumi ini. Hidup dan kehidupan ibarat ranjau, bila salah langkah, keselamatan kita pun akan terancam. Begitu juga dalam urusan muamalah, bila kita ingin diberi kebaikan dan keberkahan dalam bisnis, kuasailah ilmu yang berkaitan dengan hukum bisnis.

Oleh karenanya, Umar bin al-Khaththab pernah memperingatkan orang-orang yang tidak paham prinsip muamalah untuk tidak berdagang di pasar, Umar ra berkata :

“Janganlah seseorang berdagang di pasar kami sampai dia paham betul mengenai seluk beluk riba.”

Akibat berdagang tanpa mengetahui syari’at
Sungguh akan berakibat parah, bila pedagang tidak mempunyai ilmu mu’amalah. Ia akan mengakibatkan banyak keburukan. Tidak tahu transaksi mana yang mengandung riba atau tidak, transaksi gharar, penipuan, spekulasi semua ditabrak karena tidak memahami ilmunya. Orang seperti ini tidak akan mendatangkan kebaikan tapi justru keburukan dan kehancuran. Umar bin Abdul Azis Rahimahumullah mengatakan :

“Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan banyak membuat kerusakan daripada mendatangkan kebaikan.”

Contohnya, bila seseorang tidak tahu riba, maka dia akan semena-mena dan tindakan penindasan menjadi hal yang biasa padahal itulah sumber kehancuran di dunia dan akherat. Di dunia dia diibaratkan seperti orang gila yang sedang mabuk karena harta dan di akhirat siksa yang sangat pedih siap menantinya. Na’udzubillah..

Ilmu apa yang dikuasai pedagang
Intinya seorang pedagang haruslah memiliki aqidah dan keyakinan yang benar, itulah prinsip utama. Jika aqidahnya rusak bagaimana mungkin amalan lainnya bisa baik dan diterima. Jadi inilah yang harus pedagang ilmui dan jangan sampai terlena. Setelah itu baru ilmu yang dibutuhkan untuk menjalankan ibadah, wudlu, shalat, dan sebagainya.

Kemudian baru ilmu yang berkaitan dengan Fiqh Muamalah agar perdagangan atau bisnis yang ia jalankan tidak terjerumus dalam perkara yang dilarang Allah dan Rasul-Nya.

Apa yang menjadi sebab yang membuat bisnis atau perdagangan menjadi haram, setidaknya apabila di dalamnya ada 4 perkara,

Pertama, adanya Riba. Riba secara bahasa berarti ziyadah (tambahan). Dalam pengertian lain riba diartikan sebagai pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara batil. Pengambilan tambahan ini baik dalam transaksi jual beli maupun pinjam-meminjam.

Kedua, adanya penipuan. Penipuan muncul karena adanya ketidakpastian, maka Islam melarang segala bentuk gharar ( ketidakpastian ). Ketidakpastian itu menyangkut kuantitas, kualitas, harga dan waktu penyerahan.

Ketiga, adanya maysir / taruhan yang berarti salah satu atau beberapa pihak yang kalah, menanggung beban atas yang menang, menurut sebagian ulama maysir dapat diterjemahkan sebagai spekulasi. Misalnya, spekulasi dalam jual beli mata uang asing. Seorang spekulan dapat menangguk keuntungan ketika perhitungannya tepat mengenai fluktuasi kurs mata uang asing. Tetapi, ia juga dapat menanggung kerugian ketika perhitungannya meleset. Hal itu menurut sebagian ulama disamakan dengan maysir.

Keempat, adanya Tadlis yaitu menyembunyikan sesuatu. Tadlis dalam suatu transaksi terjadi ketika salah satu pihak yang terlibat dalam transaksi menyembunyikan informasi untuk kepentingannya. Pada dasarnya, dalam suatu transaksi, semua pihak harus mempunyai informasi yang sama mengenai produk atau barang yang di-transaksi-kan, tanpa ada yang disembunyikan. Contohnya, dalam jual beli mobil bekas, si penjual mobil lebih mengetahui secara pasti kondisi sebenarnya mobil tersebut. Namun, ia berhasil meyakinkan calon pembeli dengan menutupi kekurangan-kekurangan yang terdapat pada mobil tersebut. Pada akhirnya, calon pembeli tersebut membeli mobil itu tanpa mendapatkan informasi yang sebenarnya tentang keadaan mobil itu. Ia baru menyadari bahwa ia telah salah pilih ketika mencoba mobil itu. Namun, itu sudah terlambat, karena transaksi sudah selesai.

Demikianlah hal-hal yang harus menjadi pengetahuan bagi pelaku bisnis.Hal ini kelihatan sepele tapi terbukti banyak orang yang tidak tahu dan tidak peduli. Dan inilah rupanya yang menjadikan kemelut ekonomi Indonesia yang hingga sekarang tak kunjung membaik dan semakin menjadi-jadi.

Sungguh dalam melakukan aktivitas ekonomi tidak hanya dibutuhkan kompetensi ahli tapi lebih dari itu dibutuhkan karakter yang membentuk perbaikan diri. Memang banyak yang merasa bahwa bangsa ini telah kehilangan karakter. Namun ketika ditanya apa itu karakter, kita tergagap. Bangsa ini sesungguhnya memiliki begitu banyak episode karakter di saat merebut kemerdekaan. Namun, saat mengisi kemerdekaan, perilaku kita justru tidak berkarakter. Coba tunjukkan satu saja sinetron yang ditayangkan di televisi setiap hari, mana yang memiliki pendidikan karakter. Setiap hari kita menyaksikan kehidupan berjalan tanpa karakter. Pengusaha banyak yang berkolusi dengan politisi, politisi main mata dengan pelaku birokrasi, norma dan nilai semakin terdistorsi.

Demikianlah carut marut bangsa ini, bila bangsa ini ingin menjadi bangsa yang besar, mulailah pada diri kita sendiri, Yakinlah bahwa fondasi utama dalam membangun bangsa ini adalah dengan ilmu yang dibarengi oleh karakter atau taqwa. Karena sesungguhnya hanya dengan ketaqwaanlah Allah SWT akan membuka pintu-pintu keberkahan dari langit dan bumi. Sehingga cita-cita menjadikan bangsa yang adil, makmur dan sejahtera bisa segera terwujud.

Allahu a’lam bis showab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *